PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Secara
historis akhlak tasawwuf adalah pemandu perjalanan hidup umat manusia agar
selamat dunia dan akhirat, itu di karenakan Akhlak Tasawuf merupakan salah satu
khazanah intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin
dirasakan. Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad saw adalah
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa faktor
pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya
yang prima.
Melihat
betapa pentingnya akhlak tasawuf dalam kehidupan ini tidaklah mengherankan jika
akhlak tasawuf ditentukan sebagai mata kuliah yang wajib diikuti oleh kita
semua. Sebagai upaya untuk menanggulangi kemerosotan moral yang tengah dialami
bangsa ini.
Untuk
mengungkap segala permasalahan yang terkait dengan Akhlak Tasawuf, kami akan
mencoba menguraikannya dalam makalah yang berjudul “Pengertian
Akhlak Tasawuf, Sejarah Perkembangan Tasawuf, dan Fungsi Tasawuf”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah disampaikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan sebuah
masalah yakni :
1.
Apa yang dimaksud
dengan akhlak tasawuf ?
2.
Apa sejarah
perkembangan tasawuf ?
3.
Apa fungsi tasawuf?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan
tentang pengertian tasawuf
2. Memberitahu sejarah perkembangan tasawuf
3. Menjelaskan tentang
fungsi tasawuf
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Akhlak Tasawuf
Sebelum lebih jauh membahas tentang
asal-usul tasawuf, sedikit kami berikan pengertian singkat sufi dan tasawuf.
Ada beberapa pendapat tentang asal-usul kata tasawuf. Ada yang mengatakan bahwa
tasawuf berasal dari kata safa’, artinya suci, bersih atau murni. Karena
memang, jika dilihat dari segi niat maupun tujuan dari setiap tindakan dan
ibadah kaum sufi, maka jelas bahwa semua itu dilakukan dengan niat suci untuk
membersihkan jiwa dalam mengabdi kepada Allah SWT.[1] Ada lagi
yang mengatakan tasawuf berasal dari kata saff, artinya saff atau baris.
Mereka dinamakan sebagai para sufi, menurut pendapat ini, karena berada pada
baris (saff) pertama di depan Allah, karena besarnya keinginan mereka
akan Dia, kecenderungan hati mereka terhadap-Nya.[2] Ada pula
yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata suffah atau suffah al
Masjid, artinya serambi mesjid. Istilah ini dihubungkan dengan suatu tempat
di Mesjid Nabawi yang didiami oleh sekelompok para sahabat Nabi yang sangat
fakir dan tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka dikenal sebagai ahli suffah.
Mereka adalah orang yang menyediakan waktunya untuk berjihad dan berdakwah
serta meninggalkan usaha-usaha duniawi. Jelasnya, mereka dinamakan sufi karena
sifat-sifat mereka menyamai sifat orang-orang yang tinggal di serambi mesjid (suffah)
yang hidup pada masa nabi SAW.[3] Sementara
pendapat lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata suf, yaitu bulu
domba atau wol. Hal ini karena mereka (para sufi) tidak memakai pakaian yang
halus disentuh atau indah dipandang, untuk menyenangkan dan menenteramkan jiwa.
Mereka memakai pakaian yang hanya untuk menutupi aurat dengan bahan yang
terbuat dari kain wol kasar (suf).[4]
- Bisyri
bin Haris mengatakan bahwa sufi ialah orang yang suci
hatinya menghadap Allah SWT.
- Sahl
at-Tustari mengatakan bahwa sufi ialah orang yang bersih
dari kekeruhan, penuh dengan renungan, putus hubungan dengan manusia dalam
menghadap Allah SWT, dan baginya tiada beda antara harga emas dan pasir.
[1] Drs. Asmaran As, MA. Pengantar Studi Tasawuf. Jakarta:
RadjaGrafindo Persada, 1996 hal.42-3
[2] Ibid.
[4] Ibid. Hal 44-5.
[5] Drs. K. Permadi, S.H. Pengantar Ilmu Tasawuf.
Jakarta: Rineka Cipta, 2004. hal. 28-9
- Al-Junaid
al-Bagdadi (w. 289 H), tokoh sufi modern, mengatakan bahwa
tasawuf ialah membersihkan hati dari sifat yang menyamai binatang dan
melepaskan akhlak yang fitri, menekan sifat basyariah (kemanusiaan),
menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi kerohanian, berpegang pada
ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama atas dasar
keabadiannya, memberi nasihat kepada umat, benar-benar menepati janji
terhadap Allah SWT, dan mengikuti syari’at Rasulullah SAW.
- Abu
Qasim Abdul Kari mal-Qusyairi memberikan definisi bahwa
tasawuf ialah menjabarkan ajaran-ajaran al-Qur’an dan sunah, berjuang
mengendalikan nafsu, menjauhi perbuatan bid’ah, mengendalikan syahwat, dan
menghindari sikap meringan-ringankan ibadah.
- Abu
Yazid al-Bustami secara lebih luas mengatakan
bahwa arti tasawuf mencakup tiga aspek, yaitu kha (melepaskan diri
dari perangai yang tercela), ha (menghiasi diri dengan akhlak yang
terpuji) dan jim (mendekatkan diri kepada Tuhan).
2.2
Asal Usul Tasawuf
Tasawuf Islam bersumber dari
al-Qur’an dan Hadis. Banyak ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. berbicara
tentang hubungan antara Allah dengan hamba-Nya manusia, diantaranya seperti
tertulis pada pendahuluan di atas.
Secara umum Islam mengatur
kehidupan yang bersifat lahiriah atau jasadiah, dan kehidupan yang bersifat
batiniah. Pada unsur kehidupan yang bersifat batiniah inilah kemudian lahir
tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari
sumber ajaran Islam, al-Qur’an dan al-Sunnah serta praktek kehidupan Nabi dan
sahabatnya. Lebih jauh, al-Qur’an berbicara tentang kemungkinan manusia dan
Tuhan dapat saling mencintai (mahabbah) seperti dalam al-Maidah: 54; perintah
agar manusia senantiasa bertaubat (at-Tahrim: 8); petunjuk bahwa manusia akan
senantiasa bertemu dengan Tuhan dimanapun mereka berada (al-Baqarah: 110);
Allah dapat memberikan cahaya kepada orang yang dikehendaki (an-Nur: 35); Allah
mengingatkan manusia agar dalam hidupnya tidak diperbudak oleh kehidupan dunia
dan harta benda (al-Hadid, al-Fathir: 5); dan senantiasa bersikap sabar dalam
menjalani pendakatan diri kepada Allah SWT (Ali Imron: 3).[6]
[6] Dr. H. Abudin Nata, MA. Akhlak Tasawuf. Jakarta:
RadjaGrafindo Persada, 2002. hal. 181
Begitu juga perintah Allah untuk
ikhlas semata mengharap ridha-Nya dalam beribadah (al-Bayinah: 5); berperilaku
jujur (al-Anfal: 58), adil, taqwa (al-Maidah: 6); yakin, tawakal (al-Anfal:
49); qonaah, rendah hati dan tidak sombong (al-Isra’:37); beribadah dengan
penuh pengharapan terhadap ridha-Nya (raja’) (al-Kahfi: 110), takut
terhadap murka Allah atas segala dosa (khauf) (at-Tahrim: 6); menahan
hawa nafsu (Yusuf: 53); amar ma’ruf nahi munkar (Ali Imron: 104); dan banyak
lagi konsep akhlak dan amal diajarkan dalam al-Qur’an kesemuanya adalah sumber
tasawuf dalam Islam.
Sejalan dengan apa yang dibicarakan
al-Qur’an, as-Sunnah pun banyak berbicara tentang kehidupan rohaniah. Teks
hadis qudsi berikut dapat dipahami dengan pendekatan tasawuf:
كنت كنزا
مخفيا فاحببت ان اعرف فخلقت الخلق فبى عرفونى
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Aku
menjadikan makhluk agar mereka mengenal-Ku”.
Hadis tersebut memberi petunjuk
bahwa alam raya, termasuk manusia adalah merupakan cermin Tuhan, atau bayangan
Tuhan. Tuhan ingin mengenalkan diri-Nya melalui penciptaan alam ini. Dengan
demikian dalam alam raya ini terdapat potensi ketuhanan yang dapat
didayagunakan untuk mengenal-Nya. Dan apa yang ada di alam raya ini pada
hakikatnya adalah milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, sebagaimana
firman-Nya dalam al-Baqarah: 156: “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah,
mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Sesungguhnya Kami
adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali.” dan al-Baqarah 45-46: “Jadikanlah
sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh
berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang
meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali
kepada-Nya.”
Juga hadis riwayat Imam Bukhari berikut yang
menyatakan:
لا يزال
العبد يتقرب الي بالنوافل حتى احبه فاذا احببته كنت سمعه الذى يسمع وبصره الذى
يبصر به ولسانه الذى ينطق به ويده الذى يبطش بها ورجله الذى يمشوى بها فبى يسمع
فبى يبصر وبى ينطق وبى يعقل وبى يبطش وبى يمشى.
“Senantiasa seorang hamba itu mendekatkan diri
kepada-Ku dengan amalan-amalan sunat, sehingga Aku mencintainya. Maka
apabila Aku mencintainya maka jadilah Aku pendengarannya yang dia pakai untuk
mendengar, penglihatannya yang dia pakai untuk melihat, lidahnya yang dia pakai
untuk berbicara, tangannya yang dia pakai untuk mengepal dan kakinya yang dia
pakai untuk berjalan; maka dengan-Ku lah dia mendengar, melihat, berbicara,
berfikir, meninju dan berjalan.”
Hadis tersebut memberi
petunjuk dapat bersatunya manusia dan Tuhan, yang selanjutnya dikenal
dengan istilah al-Fana’ yaitu fana’nya makhluk kepada Tuhan yang saling
mencintai.
Benih-benih tasawuf dipraktekkan
langsung oleh Muhammad SAW. dalam kehidupan kesehariannya. Perilaku hidup
Nabi SAW sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari-hari beliau berkhalawat di gua
Hira’, terutama pada bulan Ramadhan. Di sana Nabi SAW banyak berzikir dan
bertafakur mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengasingan diri Nabi SAW. di gua
Hira’ ini merupakan acuan utama para sufi dalam berkhalawat. Puncak kedekatan
Nabi SAW dengan Allah terjadi ketika beliau melakukan Isro’ wal mi’roj.
Dikisahkan Nabi berdialog langsung dengan Allah ketika menerima perintah Shalat
lima waktu.
Perikehidupan (sirah) Nabi
SAW juga merupakan benih-benih tasawuf, yaitu pribadi Nabi yang sederhana,
zuhud, dan tidak pernah terpesona oleh kemewahan dunia. Dalam salah satu
do’anya nabi bermohon: “Wahai Allah, hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan
matikanlah aku selaku orang miskin.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim).
Pada suatu waktu Nabi SAW datang ke rumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar
as-Shidiq, ternyata di rumahnya tidak ada makanan. Keadaan seperti ini
diterimanya dengan sabar, lalu beliau menahan laparnya dengan berpuasa (HR. Abu
Daud, Tirmidzi dan Nasai). Nabi juga sering mengganjal perutnya dengan batu
sebagai penahan lapar.
Cara beribadah Nabi SAW juga
merupakan cikal-bakal tasawuf. Nabi SAW adalah orang yang paling tekun
beribadah. Dalam satu riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam
Nabi SAW mengerjakan shalat malam; di dalam shalat lututnya bergetar karena
panjang, banyak rakaat serta khusu’ dalam shalatnya. Tatkala ruku’ dan sujud
terdengar suara tangisnya, namun beliau tetap terus melakukan shalat sampai
suara azan Bilal bin Rabah terdengar di waktu subuh. Melihat Nabi SAW demikian
tekun melakukan shalat, Aisyah bertanya: “Wahai junjungan, bukankah dosamu
yang terdahulu dan akan datang telah diampuni Allah, kenapa engkau masih
terlalu banyak melakukan shalat?” Nabi SAW menjawab: ‘Aku ingin menjadi
hamba yang banyak bersyukur”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Akhlak Nabi SAW merupakan acuan akhlak yang tiada
bandingannya. Akhlak Nabi bukan hanya dipuji oleh manusia termasuk
musuh-musuhnya, tetapi juga oleh Allah SWT. Allah berfirman: “Dan
sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS.
68:4). Dan ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi SAW, ia menjawab: “Akhlaknya
adalah al-Qur’an”. (HR. Ahmad dan Muslim).
Ajaran rasul tentang bersikap dan
berperilaku dalam kehidupan sehari-hari banyak diikuti oleh para sahabatnya,
dilanjutkan oleh para tabi’in, tabiit tabi’in dan seluruh Muslim hingga saat
ini . Mereka mengikuti firman Allah: “Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah.” (Al-Ahzab: 21).
2.3 Sumber Ajaran Tasawuf.
Demikian sekilas asal-usul tasawuf dalam Islam. Jelas
asal-usul tasawuf Islam bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. Namun demikian
perlu juga kita perhatikan pendapat dari kalangan orientalis Barat. Mereka
mengatakan bahwa sumber yang membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam,
unsur Masehi (agama Nasrani), unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia.
Unsur dari Islam sudah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya, selanjutnya unsur
di luar Islam yang masuk ke dalam tasawuf menurut orientalis dapat dijelaskan
berikut:
1.
Unsur Masehi (agama Nasrani)
Orang Arab sangat menyukai cara
kependataan, khususnya dalam hal latihan jiwa dan ibadah. Atas dasar ini Von
Kromyer berpendapat bahwa tasawuf adalah buah dari unsur agama Nasrani yang
terdapat pada zaman Jahiliyah.Hal ini diperkuat pula oleh Gold Ziher yang
mengatakan bahwa sikap fakir dalam Islam adalah merupakan cabang dari agama
Nasrani. Selanjutnya Noldicker mengatakan bahwa pakaian kasar yang kelak
digunakan para sufi sebagai lambang kesederhanaan hidup adalah merupakan
pakaian yang biasa dipakai oleh para pendeta. Sedangkan Nicholson mengatakan
bahwa istilah-istilah tasawuf itu berasal dari agama Nasrani, dan bahkan ada
yang berpendapat bahwa aliran tasawuf berasal dari agama Nasrani.[7]
Unsur lain yang dikatakan berasal
dari Nasrani adalah sikap fakir. Menurut keyakinan Nasrani bahwa Isa bin Maryam
adalah seorang yang fakir, dan Injil juga disampaikan kepada orang fakir. Isa
berkata: “Beruntunglah kamu orang-orang miskin, karena bagi kamulah kerajaan
Allah. Beruntunglah kamu orang yang lapar, karena kamu akan kenyang.”
Selanjutnya adalah sikap tawakal kepada Allah dalam soal penghidupan terlihat
pada peranan syekh yang menyerupai pendeta, bedanya pendeta dapat menghapus
dosa; selibasi, yaitu menahan diri tidak kawin karena kawin dianggap dapat
mengalihkan perhatian diri dari Khalik, dan penyaksian, dimana sufi dapat menyaksikan
hakikat Allah dan mengadakan hubungan dengan Allah.[8]
2. Unsur
Yunani
Kebudayaan Yunani yaitu filsafatnya
telah masuk pada dunia Islam di mana perkembangannya dimulai pada akhir Daulah
Umayyah dan puncaknya pada Daulah Abbasiyah, metode berpikir filsafat Yunani
ini juga telah ikut mempengaruhi pola fikir sebagian orang Islam yang ingin
berhubungan dengan Tuhan. Pada persoalan ini, boleh jadi tasawuf yang terkena
pengaruh Yunani adalah tasawuf yang kemudian diklasifikasikan sebagai tasawuf
yang bercorak filsafat. Hal ini dapat dilihat dari pikiran al-Farabi, al-Kindi,
Ibnu Sina, terutama dalam uraian tentang filsafat jiwa. Demikian juga pada
uraian-uraian tasawuf dari Abu Yazid, al-Hallaj, Ibnu Arabi, Syukhrawardi, dan
lain sebagainya.[9]
Selain itu, ada yang mengatakan
bahwa masuknya filsafat ke dunia Islam melalui mazhab paripatetic dan Neo-Platonisme.
Mazhab yang pertama (paripatetic) kelihatannya lebih banyak masuk ke
dalam bentuk skolastisisme ortodoks (kalam), sedangkan untuk Neo
Platonisme lebih masuk kepada dunia tasawuf.
Filsafat emanasinya Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar
dari zat Tuhan Yang Maha Esa menjadi salah satu dasar argumentasi para
orientalis dalam menyikapi asal mula tasawuf di dunia Islam. Dalam emanasinya,
Plotinus menjelaskan bahwa roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada
Tuhan. Akan tetapi ketika masuk ke alam materi, roh menjadi kotor, dan untuk
kembali ke tempat asalnya, roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Penyucian roh
dilakukan dengan cara meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sebisa
mungkin, atau bersatu dengan Tuhan. Dikatakan pula bahwa filsafat ini mempunyai
pengaruh terhadap munculnya kaum zahid dan sufi dalam Islam.[10]
[8] Ibid.
[9] Drs. Rosihon Anwar, M.Ag. Drs. Mukhtar Solihin, M.Ag.
Ilmu Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 2000. hal. 35
[10] Ibid. hal. 36
3. Unsur
Hindu/Budha
Tasawuf dan sistem kepercayaan agama
Hindu memiliki persamaan, seperti sikap fakir. Darwis Al-Birawi mencatat adanya
persamaan cara ibadah dan mujahadah pada tasawuf dan ajaran Hindu.
Demikian juga pada paham reinkarnasi (perpindahan roh dari satu badan ke
badan lain), cara pelepasan dari dunia versi Hindu-Budha dengan persatuan diri
dengan jalan mengingat Allah.[11]
Salah satu maqamat sufiah al-Fana
nampaknya ada persamaan dengan ajaran Nirwana dalam agama Hindu. Gold
Ziher mengatakan bahwa ada hubungan persamaan antara tokoh Sidharta Gautama dengan
Ibrahim bin Adham tokoh sufi.[12]
Menurut Qomar Kailan
pendapat-pendapat ini terlalu ekstrim sekali karena kalau diterima bahwa ajaran
tasawuf itu berasal dari Hindu/Budha berarti zaman Nabi Muhammad telah
berkembang ajaran Hindu/Budha itu ke Mekkah, padahal sepanjang sejarah belum
ada kesimpulan seperti itu.[13]
4. Unsur
Persia
Sebenarnya Arab dan Persia memiliki
hubungan sejak lama, yaitu pada bidang politik, pemikiran, kemasyarakatan dan
sastra. Namun, belum ditemukan argumentasi kuat yang menyatakan bahwa kehidupan
rohani Persia telah masuk ke tanah Arab. Yang jelas kehidupan kerohanian Arab
masuk ke Persia hingga orang-orang Persia itu terkenal sebagai ahli-ahli
tasawuf. Barangkali ada persamaan antara istilah zuhud di Arab dengan zuhud
menurut agama Manu dan Mazdaq; antara istilah Hakikat
Muhammad dan paham Hormuz (Tuhan Kebaikan) dalam agama Zarathustra.[14]
Dari semua uraian di atas dapatlah
disimpulkan bahwa sebenarnya tasawuf itu bersumber dari ajaran Islam itu
sendiri ialah al-Qur’an dan Sunah, mengingat yang dipraktekkan Nabi SAW dan
para sahabat. Namun setelah tasawuf itu berkembang menjadi pemikiran, bisa saja
ia mendapat pengaruh dari luar seperti filsafat Yunani dan sebagainya. Dan
andaipun terdapat persamaan dengan ajaran beberapa agama, kemungkinan yang dapat
terjadi adalah persamaan dengan agama-agama samawi (Nasrani dan Yahudi),
mengingat semua agama samawi berasal dari tuhan yang sama Allah SWT yang dalam
Islam diyakini sama mengajarkan tentang ketauhidan.
[11] Ibid. hal. 33
[12] Drs. H. Abuddin Nata, MA. Op.Cit. hal. 187
[13] Ibid.
[14] Drs. Rosihan Anwar, M.Ag, Drs. Mukhtar Solihin, M.Ag.
Op.Cit. hal. 38-9
2.4 Hubungan Akhlak dan Tasawuf
Akhlak dan Tasawuf saling berkaitan. Akhlak dalam
pelaksanaannya mengatur hubungan horizontal antara sesama manusia, sedangkan
tasawuf mengatur jalinan komunikasi vertical antara manusia dengan Tuhannya.
Akhlak menjadi dasar dari pelaksanaan tasawuf, sehingga dalam prakteknya
tasawuf mementingkan akhlak. Hubungan akhlak dan tasawuf tidak bisa
terpisashkan karena kesucian hati akan membentuk akhlakjyang baik pula .Pada
intinya seseorang yang masuk kedalamn dunia tasawuf hgarus munundukan jasmani
dan rohani dengan cara mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga akhlak yang
baik.
2.5
Beberapa Istilah dalam Ilmu Tasawuf
1.
Maqamat
Secara
harfiah maqamat berasal dari bahasa arab yang berarti tempat orang berdiri atau
pangkal mulia.[4] Istilah ini selanjutnya
digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang
sufi untuk berada dekat dengan Allah.
Seperti
telah disinggung diatas, bahwa maqam-maqam yang dijalani kaum sufi umumnya
terdiri atas;
a. Taubat
Taubat berasal
dari bahasa arab taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali. Sedangkan
taubat yang dimaksud oleh kalangan sufi adalah memohon ampun atas segala dosa
dan kesalahan disertai janji yang sungguh-sungguh untuk tidak akan mengulangi
perbuatan dosa tersebut, yang disertai dengan melakukan amal kebajikan.
b. Cemas dan harap (khauf dan raja’)
Menurut
Hasan Al-Bashri, yang dimaksud dengan cemas atau takut adalah suatu perasaan
yang timbul karena banyak berbuat salah dan sering lalai kepada Allah. Karena
sering menyadari kekurang sempurnaannya dalam mengabdi kepada Allah, timbullah
rasa takut dan khawatir apabila Allah akan murka kepadanya.[5]
c. Zuhud
Secara
harfiah zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian.
Sedangkan menurut Harun Nasution zuhud artinya keadaan meninggalkan dunia dan
hidup kematerian.
d. Faqr (fakir)
Secara
harfiah fakir biasanya diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh atau orang
miskin. Sedangkan dalam pandangan kaum sufi fakir adalah tidak meminta lebih
dari apa yang telah ada pada diri kita. Tidak meminta rizki kecuali hanya untuk
dapat menjalankan kewajiban-kewajiban. Tidak meminta sungguhpun tak ada pada
diri kita, kalau diberi diterima. Tidak meminta tetapi tidak menolak.
e. Sabar
Secara
harfiah sabar berarti tabah hati. Menurut Zun al-Nun al-Mishry, sabar artinya
menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi
tenang ketika mendapatkan cobaan, dan menampakkan sikap cukup walaupun
sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.
f. Ridha (rela)
Secara
harfiah ridha artinya rela, suka, senang. Harun Nasution mengatakan bahwa ridha
berarti tidak berusaha, tidak menentang qada dan qadar Allah. Menerima qada dan
qadar Allah dengan senang hati.
g. Muraqabah
Kata ini
mempunyai arti yang mirip dengan introspeksi atau self correction. Dengan
kalimat yang lebih populer dapat dikatakan bahwa muraqabah adalah siap dan
siaga setiap saat untuk meneliti keadaan diri sendiri.
2.
Hal
Menurut
Harun Nasution, hal merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, perasaan
sedih, perasaan takut dan sebagainya. Hal yang biasa disebut sebagai hal adalah
takut (al-Khauf), rendah hati (al-Tawadlu), patuh (al-Taqwa), ikhlas
(al-Ikhlas), rasa berteman (al-Uns), gembira hati (al-Wajd), berterima kasih
(al-Syukr).
Hal berlainan
dengan maqam, bukan diperoleh atas usaha manusia, tetapi sebagai anugerah dan
rahmat dari Tuhan. Dan berlainan pula dengan maqam, hal bersifat sementara,
datang dan pergi, datang dan pergi bagi seorang sufi dalam perjalanannya
mendekati Tuhan.[6]
3.
Mahabbah
Kata
mahabbah berasal dari kata ahabba, yahibbu, mahabbatan, yang secara
harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan atau cinta yang
mendalam. Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan
oleh al-Qusyairi, yaitu bahwa mahabbah adalah keadaan jiwa yang mulia yang
bentuknya adalah disaksikannya kemutlakan Allah SWT oleh hambanya, selanjutnya
yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihi-Nya dan yang
seorang hamba mencintai Allah SWT.
4.
Ma’rifah
Dari segi
bahasa ma’rifah berasal dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifah yang
artinya pengetahuan atau pengalaman. Selanjutnya ma’rifah digunakan untuk
menunjukkan pada salah satu tingkatan dalam tasawuf. Dalam arti sufistik ini,
ma’rifah diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati sanubari.
Selanjutnya Harun Nasution mengatakan bahwa ma’rifah menggambarkan hubungan
rapat dalam bentuk pengetahuan dengan hati sanubari.
5.
Fana dan Baqa
Dari segi
bahasa al-fana berarti hilangnya wujud sesuatu. Adapun arti fana menurut
kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau
dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri.menurut pendapat lain, fana
berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan. Dan
dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat yang tercela.
Sebagai
akibat dari fana adalah baqa. Secara harfiah baqa berarti kekal. Sedangkan baqa
yang dimaksud oleh para sufi adalah kekalnya sifat-sifat terpuji, dan
sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia.
6.
Ittihad
Ittihad
merupakan suatu tingkatan di mana yang mencintai dan yang dicintai telah
menjadi satu. Dalam situasi Ittihad yang demikian itu, seorang sufi telah
merasa dirinya bersatu dengan Tuhan.
7.
Hulul
Secara
harfiah hulul berarti Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu,
yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui
fana. Jika sifat ketuhanan yang ada dalam diri manusia bersatu dengan sifat
kemanusiaan yang ada dalam diri Tuhan maka terjadilah Hulul.
8.
Wahdat al-Wujud
Wahdat
al-Wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu wahdat dan al-wujud.
Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan, sedangkan al-wujud artinya ada.
Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud. Menurut pandangan para
sufi, wahdat al-wujud adalah paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada
hakikatnya adalah satu kesatuan wujud.
9.
Insan Kamil
Insan kamil
berasal dari bahasa arab, yaitu dari dua kata; insan dan kamil.
Secara harfiah, insan berarti manusia, dan kamil berarti yang sempurna. Dengan
demikian, insan kamil berarti manusia yang sempurna. Insan kamil pula lebih
ditujukan kepada manusia yang sempurna dari segi pengembangan potensi
intelektual, rohaniah, intuisi, kata hati, akal sehat, fitrah dan lainnya yang
bersifat batin lainnya.
10.
Tariqat
Dari segi
bahasa tariqat berasal dari bahasa arab thariqat yang artinya jalan,
keadaan, aliran dalam garis sesuatu. Lebih khusus lagi tariqat di kalangan sufi
berarti sistem dalam rangka mengadakan latihan jiwa, membersihkan diri dari
sifat-sifat yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji dan
memperbanyak zikir dengan penuh ikhlas semata-mata untuk mengharapkan bertemu
dan bersatu secara ruhiah dengan Tuhan.
2.6
Tujuan Tasawuf
Adapun
tujuan tasawuf adalah:
1. Menurut Harun Nasution, tujuan
tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin
dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya
dapat bersatu dengan Roh Tuhan.[15]
2. Menurut K. Permadi, tujuan tasawuf
ialah fana untuk mencapai makrifatullah, yaitu leburnya diri
pribadi pada kebaqaan Allah, dimana perasaan keinsanan lenyap diliputi
rasa ketuhanan.[16]
Dengan demikian inti dari ajaran tasawuf adalah
menempatkan Allah sebagai pusat segala aktivitas kehidupan dan menghadirkan-Nya
dalam diri manusia sebagai usaha memperoleh keridaan-Nya
2.7
Sejarah Perkembangan
Tasawuf
Tasawuf mempunyai perkembangan tersendiri dalam
sejarahnya. Tasawuf berasal dari gerakan zuhud yang selanjutnya berkembang
menjadi tasawuf. Meskipun tidak persis dan pasti, corak tasawuf dapat dilihat
dengan batasan- batasan waktu dalam rentang sejarah sebagai berikut:
A.
ABAD PERTAMA DAN KEDUA HIJRIYAH
Fase abad pertama dan kedua Hijriyah belum bisa
sepenuhnya disebut sebagai fase tasawuf tapi lebih tepat disebut sebagai fase
kezuhudan. Adapun ciri tasawuf pada fase ini adalah sebagai berikut:
1.
Bercorak praktis ( amaliyah )
Tasawuf pada fase ini lebih bersifat amaliah
dari pada bersifat pemikiran. Bentuk amaliah itu seperti memperbanyak ibadah,
menyedikitkan makan minum, menyedikitkan tidur dan lain sebagainya. Amaliah ini
menjadi lebih intensif terutama pasca terbunuhnya sahabat Utsman. Para sahabat
Nabi SAW
digambarkan oleh Allah SWT sebagai orang yang ahli rukuk dan sujud,
Muhammad itu adalah utusan
Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang
kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud
mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka
mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan
tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia
dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala
yang besar. ( al-Fath: 29 )
Menurut Abd al-Hakim Hassan, abad
pertama hijriyah terdapat dua corak kehidupan
spiritual. Pertama, kehidupan spiritual sebelum terbunuhnya Utsman dan
kedua, kehidupan spiritual pasca terbunuhnya Utsman. Kehidupan
spiritual yang pertama adalah Islam murni, sementara yang kedua adalah produk
persentuhan dengan lingkungan, akan tetapi secara prinsipil masih tetap
bersandar pada dasar kehidupan spiritual Islam pertama.
Peristiwa terbunuhnya khalifah Utsman merupakan
pukulan tersendiri terhadap perasaan kaum muslimin. Betapa tidak, Utsman adalah
termasuk kelompok pertama orang-orang yang memeluk Islam ( al- Sabiqun
al-Awwalun ), salah seorang yang dijanjikan masuk surga, orang yang
dengan gigih mengorbankan hartanya untuk perjuangan Islam dan orang yang
mengawini dua putri Nabi. Peristiwa Utsman mendorong munculnya kelompok yang
tidak ingin terlibat dalam pertikaian politik memilih tinggal di rumah untuk
menghindari fitnah serta konsentrasi untuk beribadah. Sehingga al-Jakhid salah
seorang yang berkonsentrasi dalam ibadah yang juga salah seorang santri Ibn
Mas’ud berkata, “Aku bersyukur kepada Allah sebab aku tidak terlibat dalam
pembunuhan Utsman dan aku shalat sebanyak seratus rakaat dan ketika terjadi perang
Jamal dan Shiffin aku bersyukur kepada Allah dan aku menambahi shalat dua ratus
rakaat demikian juga aku menambahi masing-masing seratus rakaat ketika aku
tidak ikut hadir dalam peristiwa Nahrawan dan fitnah Ibn Zubair”.
2.
Bercorak kezuhudan
Tasawuf pada pase pertama dan kedua hijriyah
lebih tepat disebut sebagai kezuhudan. Kesederhanaan kehidupan Nabi diklaim
sebagai panutan jalan para zahid. Banyak ucapan dan tindakan Nabi SAW yang mencerminkan
kehidupan zuhud dan kesederhanaan baik dari segi pakaian maupun makanan,
meskipun sebenarnya makanan yang enak dan pakaian yang bagus dapat dipenuhi.
Dan secara logikapun tidak masuk akal seandaikata Nabi SAW yang menganjurkan
untuk hidup zuhud sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
Kezuhudan para sahabat Nabi SAW digambarkan oleh Hasan al-Bashri salah seorang tokoh zuhud pada abad kedua Hijriyah sebagai berikut, ”Aku pernah menjumpai suatu kaum ( sahabat Nabi ) yang lebih zuhud terhadap barang yang halal dari pada zuhud kamu terhadap barang yang haram”.
Kezuhudan para sahabat Nabi SAW digambarkan oleh Hasan al-Bashri salah seorang tokoh zuhud pada abad kedua Hijriyah sebagai berikut, ”Aku pernah menjumpai suatu kaum ( sahabat Nabi ) yang lebih zuhud terhadap barang yang halal dari pada zuhud kamu terhadap barang yang haram”.
Pada masa ini, juga terdapat fenomena kezuhudan
yang cukup menonjol yang dilakukan oleh sekelompok sahabat Rasul yang di sebut
dengan ahl al- Shuffah. Mereka tinggal di emperan masjid Nabawi di Madinah.
Nabi sendiri sangat menyayangi mereka dan bergaul bersama mereka. Pekerjaan
mereka hanya jihad dan tekun beribadah di masjid, seperti belajar, memahami dan
membaca al-Qur`an, berdzikir, berdoa dan lain sebagainya. Allah SWT sendiri juga
memerintahkan Nabi untuk bergaul bersama mereka,
Artinya:
Dan janganlah kamu mengusir
orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka
menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap
perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap
perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu
termasuk orang-orang yang zalim). ( al-An’am : 52 )
Kelompok ini dikemudian hari dijadikan sebagai
tipe dan panutan para shufi. Dengan anggapan mereka adalah para sahabat
Rasul dan kehidupan mereka adalah corak Islam. Di antara mereka adalah Abu
Dzar al-Ghifari yang sering disebut sebagai seorang sosial sejati dan sekaligus
sebagai prototip fakir sejati, si miskin yang tidak memiliki apapun tapi
sepenuhnya dimiliki Tuhan, menikmati harta-NYA yang abadi, Salman al-Faritsi, seorang
tukang cukur yang dibawa ke keluarga Nabi dan menjadi contoh adopsi rohani dan
pembaiatan mistik yang kerohaniannya kemudian dianggap sebagai unsur menentukan
dalam sejarah tasawuf Parsi dan dalam pemikiran Syiah, Abu Hurairah, salah
seorang perawi Hadits yang sangat terkenal adalah ketua kelompok
ini, Muadz Ibn Jabal, Abd Allah Ibn Mas’ud, Abd Allah ibn umar,
Khudzaifah ibn al-Yaman, Anas ibn Malik, Bilal ibn Rabah, Ammar ibn Yasar,
Shuhaib al-Rumy, Ibn Ummu Maktum dan Khibab ibn al-Arut.
Menurut Abd al-Hakim Hassan corak kehidupan
spiritual Ahl al-Shuffah sebenarnya bukan karena dorongan ajaran
Islam, akan tetapi corak itu didorong oleh keadaan ekonomi yang kurang
menguntungkan, sehingga mereka tinggal di masjid. Keadaan itu nampak dari
anjuran Rasul Allah kepada sebagian sahabat yang berkecukupan agar
memberikan makan kepada mereka. Dan mereka ( para sahabat ) yang secara
ekonomi berkecukupan dan tidak melakukan sebagaimana ahl al-Shuffah pun juga menjadi
panutan bagi orang-orang bijak.
3.
Kezuhudan didorong rasa khauf
Khauf sebagai rasa takut akan siksaan Allah SWT sangat menguasai
sahabat Nabi SAW dan orang-orang shalih pada abad pertama dan kedua Hijriyah. Informasi al-Qur`an
dan Nabi tentang keadaan kehidupan akhirat benar-benar diyakini dan
mempengaruhi perasaan dan pikiran mereka. Rasa khauf menjadi semakin intensif
terutama pada pemerintahan Umayah pasca jaman kekhilafahan yang empat.
Pada masa pemerintahan Umayah, khauf tidak hanya sebatas sebagai rasa takut
terhadap kedasyatan dan kengerian tentang kehidupan diakhirat akan tetapi khauf
juga berarti kekhawatiran yang mendalam apakah pengabdian kepada Allah bakal
diterima atau tidak. Pada masa ini pula, khauf menjadi sebuah pendekatan
untuk mengajak orang lain pada kebenaran dan kebaikan. Pendekatan indzar
(menakut-nakuti) lebih dominan dari pada pendekatan tabsyir (memberi kabar
gembira).
Semangat kelompok keagamaan pada masa ini
adalah penyebaran rasa takut kepada Allah, kritik terhadap kehidupan yang melenceng
jauh dari nilai-nilai keagamaan pada masa Nabi dan dua khalifah sesudahnya dan
memperbanyak ibadah. Tokoh utama keagamaan pada masa ini adalah Hasan
al-Bashri. Bahkan para asketis – yang nantinya disebut sebagai para shufi –
mengidentikkan pemerintah dengan kejahatan.
4.
Sikap zuhud dan rasa khauf berakar
dari nash ( dalil Agama )
Al-Qur`an dan al-Hadits memberikan informasi
tentang kebenaran sejati hidup dan kehidupan. Keduanya memberikan gambaran
tentang perbandingan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Keduanya
memberikan informasi tentang kengerian kehidupan akhirat bagi orang-orang yang
mengabaikan huum-hukum Allah. Selanjutnya orang – orang mukmin
benar-benar meyakini informasi itu. Dan keyakinan itu melahirkan rasa khauf.
Rasa khauf selanjutnya memunculkan sikap zuhud yaitu sikap menilai rendah
terhadap dunia dan menilai tinggi terhadap akhirat. Dunia dijadikan sebagai
alat dan lahan ( mazraah ) untuk mencapai kebahagian abadi dan sejati yaitu
akhirat.
5.
Sikap zuhud untuk meningkatkan
moral
Cinta dunia telah membuat saling bunuh dan
saling fitnah antar sesama. Cinta dunia melahirkan ketidaksalehan ritual,
personal maupun sosial. Itulah sebabnya Hasan al-Bashri sebagai salah seorang
zahid dalam mengajak baik masyarakat maupun pemerintah ( para pemimpin kerajaan
Umayah ) selalu mengajak untuk bersikap zuhud sebagaimana sikap ini menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sahabat Nabi yang setia.
6.
Sikap zuhud didukung kondisi
sosial-politik
Meski sikap zuhud tanpa adanya keadan sosial politik
tertentu masih tetap eksis lantaran al-Qur`an dan perilaku serta perkataan Nabi
SAW mendorong
untuk bersikap zuhud, namun keadaan sosial politik yang kacau turut menyuburkan
tumbuhnya sikap zuhud.
Selama abad pertama dan kedua hijriyah terutama setelah sepeninggal Rasul terdapat dua sistem pemerintahan, yaitu sistem pemerintahan kekhalifahan (khilafah nubuwah) dan sistem pemerintahan kerajaan (mulk). Pemerintahan pertama berlangsung selama tiga puluh tahun sesudah Nabi Muhammad SAW yaitu sejak permulaan kekhalifahan Abu Bakar hingga Ali bin Abi thalib tepatnya dari tahun 11 H/ 632 M. sampai dengan tahun 40 H./661 H.
Selama abad pertama dan kedua hijriyah terutama setelah sepeninggal Rasul terdapat dua sistem pemerintahan, yaitu sistem pemerintahan kekhalifahan (khilafah nubuwah) dan sistem pemerintahan kerajaan (mulk). Pemerintahan pertama berlangsung selama tiga puluh tahun sesudah Nabi Muhammad SAW yaitu sejak permulaan kekhalifahan Abu Bakar hingga Ali bin Abi thalib tepatnya dari tahun 11 H/ 632 M. sampai dengan tahun 40 H./661 H.
Mereka adalah para pengganti Nabi yang
berpetunjuk ( al-khulafa` al-Rasidun ). Sistem pemerintahan yang pertama ini
mekanisme penggantiannya melalui pemilihan. Pemerintahan kedua sejak
pemerintahan dinasti Umayyah tepatnya sejak tahun 41 H./661 M. Dan pemerintahan
kedua ini mekanisme pengangkatan pemimpin tertinggi melalui petunjuk atau
wasiat penguasa berdasarkan pertalian darah.
Pemerintahan kekhalifahan, dalam pandangan
banyak orang muslim, suatu bentuk kesalihan dan rasa tanggungjawab yang sangat
dalam, sedangkan dinasti umayyah pada umumnya hanya tertarik pada kekuasaan itu
sendiri. Kecaman yang sering ditujukan pada dinasti Umayyah adalah dinasti ini
tidak menerapkan kebijakan untuk membuat asas Islam sebagai dasar bagi
keputusan – keputusan administratif, oleh karenanya dinasti Umayyah lebih
menomorsatukan politik dan menomorduakan agama. Mereka pada umumnya
dianggapmenghamba duniawi dan kurang beriman.
Menurut Abd al-Hakim Hassan, abad
pertama hijriyah terdapat dua corak kehidupan
spiritual. Pertama, kehidupan spiritual sebelum terbunuhnya Utsman dan
kedua, kehidupan spiritual pasca terbunuhnya Utsman. Kehidupan
spiritual yang pertama adalah Islam murni, sementara yang kedua adalah produk
persentuhan dengan lingkungan, akan tetapi secara prinsipil masih tetap
bersandar pada dasar kehidupan spiritual Islam pertama.
a)
Fase Sebelum Terbunuhnya Khalifah
Utsman
Kehidupan spititual Islam sebelum terbunuhnya
Utsman terhitung sejak masa Rasul dan masa dua khalîfah sesudahnya yaitu khalîfah
Abu Bakar dan Umar. Kehidupan spiritual pada masa ini termasuk Islam murni.
Ciri utamanya adalah amal untuk merealisasikan dua kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sebagian besar sahabat Rasul tidak mengalahkan akhirat untuk dunia atau sebaliknya.
Pada masa ini, terdapat fenomena kehidupan
spiritual yang cukup menonjol yang dilakukan oleh sekelompok sahabat Rasul yang
di sebut dengan ahl al- Shuffah. Mereka tinggal di emperan masjid nabawi di
Madinah. Nabi sendiri sangat menyayangi mereka dan bergaul bersama mereka.
Pekerjaan mereka hanya jihad dan tekun beribadah di masjid seperti belajar,
memahami dan membaca al-Qur`an, berdzikir, berdoa dan lain sebagainya.
Kelompok ini dikemudian hari dijadikan sebagai
tipe dan panutan para shufi. Dengan anggapan mereka adalah para sahabat
Rasul dan
kehidupan mereka adalah corak Islam. Di antara mereka adalah Abu Dzar
al-Ghifari yang sering disebut sebagai seorang sosial sejati dan sekaligus
sebagai prototip fakir sejati, si miskin yang tidak memiliki apapun tapi
sepenuhnya dimiliki Tuhan, menikmati harta-NYA yang abadi, Salman al-Fartsi, seorang
tukang cukur yang dibawa ke keluarga Nabi dan menjadi contoh adopsi rohani dan
pembaiatan mistik yang kerohaniannya kemudian dianggap sebagai unsur menentukan
dalam sejarah tasawuf Parsi dan dalam pemikiran Syiah, Abu Hurairah, salah
seorang perawi hadits yang sangat terkenal adalah ketua kelompok
ini, Muadz Ibn Jabal, Abd Allah Ibn Mas’ud, Abd Allah ibn umar,
Khudzaifah ibn al-Yaman, Anas ibn Malik, Bilal ibn Rabah, Ammar ibn Yasar,
Shuhaib al-Rumy, Ibn Ummu Maktum dan Khibab ibn al-Arut.
Menurut Abd al-Hakim Hassan corak kehidupan
spiritual Ahl al-Shuffah sebenarnya bukan karena dorongan ajaran
Islam, akan tetapi corak itu didorong oleh keadaan ekonomi yang kurang
menguntungkan, sehingga mereka tinggal di masjid. Keadaan itu nampak dari
anjuran Rasul Allah kepada sebagian sahabat yang berkecukupan agar memberikan
makan kepada mereka. Dan mereka ( para sahabat ) yang secara ekonomi
berkecukupan dan tidak melakukan sebagaimana ahl al-Shuffah pun juga menjadi
panutan bagi orang-orang bijak.
Kesederhanaan kehidupan Nabi juga diklaim sebagai panutan jalan para shufi.
Kesederhanaan kehidupan Nabi juga diklaim sebagai panutan jalan para shufi.
Banyak ucapan dan tindakan Rasul yang
mencerminkan kehidupan zuhud dan kesederhanaan baik dari segi
pakaian ataupun makanan, meskipun makanan yang enak dan pakaian yang
bagus dapat dipenuhi. Hal itu berlangsung hingga ahir hayat Rasul Allah. Dan
secara logikapun tidak masuk akal seandaikata Rasul yang menganjurkan untuk
hidup zuhud dan sederhana sementara dirinya sendiri tidak melakukannya
b)
Fase Pasca Terbunuhnya Khalifah
Utsman
Pasca terbunuhnya khalifah Utsman, kehidupan
spiritual mengalami perubahan dibandingkan dengan masa sebelumnya. Peristiwa
terbunuhnya khalifah Utsman merupakan pukulan tersendiri terhadap perasaan kaum
muslimin. Betapa tidak, Utsman adalah termasuk kelompok pertama orang-orang
yang memeluk Islam ( al- Sabiqin al-Awwalin ), salah seorang yang
dijanjikan masuk surga, dan orang yang mengawini dua putri Nabi.
Peristiwa Utsman mendorong munculnya kelompok
yang tidak ingin terlibat dalam pertikaian politik memilih tinggal di rumah
untuk menghindari fitnah serta konsentrasi untuk beribadah. Sehingga al-Jakhid
salah seorang yang berkonsentrasi dalam ibadah yang juga salah seorang santri
Ibn Mas’ud berkata, “Aku bersyukur kepada Allah sebab aku tidak terlibat dalam
pembunuhan Utsman dan aku shalat sebanyak seratus rakaat dan ketika terjadi
perang Jamal dan Shiffin aku bersyukur kepada Allah dan aku menambahi shalat
dua ratus rakaat demikian juga aku menambahi masing-masing seratus rakaat
ketika aku tidak ikut hadir dalam peristiwa Nahrawan dan fitnah Ibn Zubair”.
Dengan demikian pada masa ini mempunyai corak baru dalam kehidupan
keagamaan kaum muslimin. Fenomena keagamaan itu ditandai dengan munculnya
para juru cerita ( al-Qashshas ) baik di masjid-masjid ataupun di tempat
khalayak ramai dan para qurra` yaitu mereka yamg membaca al-Qur,an dengan menangis.
Markas utama para qurra itu ada di Bashra.
7.
Fase Abad Kedua Hijriyah
Kehidupan spiritual pada fase ini mempunyai
ciri tersendiri. Konsep zuhud yang semula berpaling dari kesenangan dan
kemewahan dunia berubah menjadi pembersihan jiwa, pensucian hati dan pemurnian
kepada Allah. Latihan-latihan diri ( al-riyâdlah ) sangat menonjol pada fase ini
seperti menyepi ( khalwah ), bepergian (siyâhah ), puasa ( al-shwm
) dan menyedikitkan makan ( qillah al-tha’âm ) bahkan sebagaian mereka tinggal di gua-gua.
Menurut Ibn Khaldun, orang yang mengkonsentrasikan beribadah pada fase
ini mendapatkan julukan al-Shufiyah atau al-Mutashawwifah.
Tema sentral zuhud pada fase ini adalah tawakal
dan ridlâ. Konsep tawakal dan ridlâ yang terdapat dalam al-Qur`ân itu yang oleh
para asketis sebelumnya dalam arti etis berubah menjadi madzhab yang
sangat ektrim. Itulah pada fase ini banyak kalangan asketis ( zâhid ) melakukan
perjalanan masuk ke hutan dengan bertawakal tanpa bekal apapun dan mereka rela
terhadap karunia apa saja yang mereka terima.
Tokoh terkenal madzhab tawakal adalah Ibrahim
bin Adham ( w. 161 H. / 790 M. ) . Ia meninggalkan kehidupan kebangsawanan di
Balkh ibu kota kaum Budish tempat ia dilahirkan. Perkembangan doktrin tawakal
ini pada perkembangannya mengarah kepada konsep sentral shufi tentang hubungan
manusia dan Tuhan, konsep ganda tentang cinta dan rahmat melebur dalam suatu
perasaan.
Nampaknya Kehidupan spiritual pada fase ini
terpengaruh oleh pengaruh-pengaruh luar. Cerita Malik ibn Dinar banyak
diriwayatkan dari al-Masih, Taurat dan pendeta. Kehidupan Ibrâhim ibn
Adham menyerupai kehidupan Sidarta Gautama, seorang peletak agama Budha. Adalah
hal biasa seorang abid kontak dengan para pendeta ( râhib ) .
Mereka saling tukar pengalaman mengenai kebijaksanaan ( al-hikmah, wisdom ) dan
cara-cara mujahadah. Itulah sebabnya fase abad kedua hijriyah ini terutama
pasca Hasan al- Bashri dapat disebut sebagai fase transisi dari zuhud, yang
puncaknya pada Hasan al-Bashri menuju tasawuf yang dimulai sejak Râbiah al-Adawiyah.
Fase ini juga kadang disebut dengan fase kelompok para penangis ( al –
Bukkâ’un ).
8.
Fase Abad III dan IV Hijriyah
Apabila abad pertama dan kedua Hijriyyah
disebut fase asketisisme ( kezuhudan ), maka abad ketiga dan keempat
disebut sebagai fase tasawuf. Praktisi kerohanian yang pada masa sebelumnya
digelari dengan berbagai sebutan seperti zahid, abid, nasik, qari` dan
sebagainya, pada permulaan abad ketiga hijriyah mendapat sebutan shufi. Hal itu
dikarenakan tujuan utama kegiatan ruhani mereka tidak semata – mata kebahagian
akhirat yang ditandai dengan pencapaian pahala dan penghindaran siksa, akan
tetapi untuk menikmati hubungan langsung dengan Tuhan yang didasari dengan
cinta. Cinta Tuhan membawa konsekuensi pada kondisi tenggelam dan mabuk kedalam
yang dicintai ( fana fi al-mahbub ). Kondisi ini tentu akan mendorong ke
persatuan dengan yang dicintai ( al-ittihad ). Di sini telah terjadi perbedaan
tujuan ibadah orang-orang syariat dan ahli hakikat.
Pada fase ini muncul istilah fana`, ittihad dan
hulul. Fana adalah suatu kondisi dimana seorang shufi kehilangan kesadaran
terhadap hal-hal fisik ( al-hissiyat). Ittihad adalah kondisi dimana seorang
shufi merasa bersatu dengan Allah sehingga masing-masing bisa memanggil dengan
kata aku ( ana ). Hulul adalah masuknya Allah kedalam tubuh manusia yang
dipilih.
Di antara tokoh pada fase ini adalah Abu yazid al-Busthami (w.263 H.) dengan konsep ittihadnya, Abu al-Mughits al-Husain Abu Manshur al-Hallaj ( 244 – 309 H. ) yang lebih dikenal dengan al-Hallaj dengan ajaran hululnya. al-Hallaj dilahirkan di Persia dan dewasa di Iraq Tengah. Dia meghadapi empat tuduhan yang ahirnya membawanya dieksekusi di tiang salib. Empat tuduhan yang dituduhkan kepadanya adalah,
Di antara tokoh pada fase ini adalah Abu yazid al-Busthami (w.263 H.) dengan konsep ittihadnya, Abu al-Mughits al-Husain Abu Manshur al-Hallaj ( 244 – 309 H. ) yang lebih dikenal dengan al-Hallaj dengan ajaran hululnya. al-Hallaj dilahirkan di Persia dan dewasa di Iraq Tengah. Dia meghadapi empat tuduhan yang ahirnya membawanya dieksekusi di tiang salib. Empat tuduhan yang dituduhkan kepadanya adalah,
1.
Hubungannya dengan kelompok al-Qaramithah
2.
Ucapannya ” أنا الحقّ ( saya adalah tuhan yang maha benar)
3.
Keyakinan para pengikutnya tentang ketuhanannya
4.
Pendapatnya bahwa menunaikan ibadah haji tidak wajib
Tokoh lainnya adalah Dzunnun al-Mishri ( w. 245
H.) yang dikenal dengan pencetus ma’rifat. Dia pernah belajar ilmu Kimia dari
Jabir bin Hayyan. Dia juga dianggap orang yang berbicara pertama kali tentang
maqamat dan ahwal di Mesir., al-Hakim al-Tirmidzi (w. 320 H. ) dengan konsep
kewalian, Abu Bakar al-Sibli ( w.334 H.)
9.
Fase Abad V Hihriyah
Fase ini disebut sebagai fase konsolidasi yakni
memperkuat tasawuf dengan dasarnya yang asli yaitu al-Qur`an dan al-Hadits atau
yang sering disebut dengan tasawuf sunny yakni tasawuf yang sesuai dengan
tradisi (sunnah) Nabi dan para sahabatnya. Fase ini sebenarnya merupakan reaksi
terhadap fase sebelumnya dimana tasawuf sudah mulai melenceng dari koridor
syariah atau tradisi (sunnah) Nabi dan sahabatnya. Tokoh tasawuf pada fase ini
adalah Abu Hamid al-Ghazali (w.505 H) atau yang lebih dikenal dengan al-Ghzali.
Ia dilahirkan di Thus Khurasan. Ia hidup dalam lingkungan pemikiran maupun
madzhap yang sangat hitorigen. al-Ghazali dikenal sebagai pemuka madzhab kasyf
dalam makrifat. Tentang kesunnian al-Ghazali dikomentari oleh muridnya Abdul
Ghafir al-Faritsi,”Ahirnya al-Ghazali berkonsentrasi pada hadits Nabi
al-Mushthofa dan berkumpul bersama-sama ahli Hadits dan mempelajari kitab
Shahih al-Bukhari dan Shahih al-Muslim Dia menerima tasawuf dari kelompok
persia menuju tasawuf suuni. Itulah sebabnya ia banyak menyerang filsafat
Yunani dan menunjukkan kelemahan-kelemahan aliran batiniyyah. Di antara buku
karangannya adalah Tahafut al-Falasifah, al-Munqidz Min al-Dlalal dan Ihya`
Ulum al-Din.
Tokoh lainnya adalah Abu al-Qasim Abd al-Karim
bin Hawazin Bin Abd al-Malik Bin Thalhah al-Qusyairi atau yang lebih dikenal
dengan al-Qusyairi (471 H), al-Qusyairi menulis al-Risalah al-Qusyairiyah
terdiri dari dua jilid.
10.
Fase Abad VI Hijriyah
Fase ini ditandai dengan munculnya tasawuf
falsafi yakni tasawuf yang memadukan antara rasa (dzauq) dan rasio (akal),
tasawuf bercampur dengan filsafat terutama filsafat Yunani. Pengalaman –
pengalaman yang diklaim sebagai persatuan antara Tuhan dan hamba kemudian
diteorisasikan dalam bentuk pemikiran seperti konsep wahdah al-wujud yakni
bahwa wujud yang sebenarnya adalah Allah sedangkan selain Allah hanya gambar
yang bisa hilang dan sekedar sangkaan dan khayali.
Tokoh –tokoh pada fase ini adalah Muhyiddin Ibn
Arabi atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Arabi ( 560 – 638 H.) dengan konsep
wahdah al-Wujudnya. Ibnu Arabi yang dilahirkan pada tahun 560 H. dikenal dengan
sebutan as-Syaikh al-Akbar (Syekh Besar). Di masa mudanya, ia pernah menjadi
sekretaris hakim tingkat wilayah. Sakit keras yang pernah dialami mengubah
sikap hidup yang sangat drastis. Dia menjadi seorang zahid dan abid. Dia
menghabiskan waktunya di beberapa kota di Andalusia dan di Afrika Utara untuk
bertemu para guru shufi. Umur tiga puluh tahun pindah ke Tunis kemudia ke Fas.
Disini, Ibnu Arabi menulis buku berjudul al-Isra Ila Maqam al-Asra
(الإسراء إلى مقام الأسرى ). Kemudian pergi ke Kairo dan al-Quds yang kemudian
diteruskan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ibnu Arabi beberapa tahun
tinggal di Mekkah dan disinilah ia menyusun kitab Taj al-Rasail (تاج الرسائل) dan
Ruh al-Quds (روح القدس) dan pada tahun 598 H. Mulai menulis kitab yang sangat
terkenal al-Futuhat al-Makkiyyah (الفتوحات المكية). Ahirnya Ibnu Arabi tinggal
di Damaskus dan menulis kitab Fushush al-Hikam (فصوص الحِكَم). Ibnu Arabi
meninggal pada tahun 638 H.
Tokoh lainnya adalah al-Syuhrawardi (549
– 587 H.) dengan konsep Isyraqiyahnya. Ia dihukum bunuh dengan tuduhan telah
melakukan kekufuran dan kezindikan pada masa pemerintahan Shalahuddin al-Ayubi.
Diantara kitabnya adalah Hikmat al-Israq. Tokoh berikutnya adalah Ibnu
Sab’in (667 H.) dan Ibn al-Faridl (632 H.)
Pada abad VI juga ditandai dengan munculnya
tariqat yakni madrasah shufi yang bertujuan membimbing calon shufi menuju
pengalaman ilahi melalui teknik dzikir tertentu. Oleh sebagian orang dikatakan
bahwa munculnya taiqat adalah untuk membantu orang-orang –awam agar ikut
mencicipi tasawuf karena selama ini pengalaman tasawuf hanya dialami oleh
orang-orang tertentu saja (khawash). Disamping itu kehadiran thariqat juga
untuk memagari tasawuf agar senantiasa berada dalam koridor syariat. Itulah
sebabnya sistem thariqat sangat ketat.
2.8 Fungsi Tasawuf
Fungsi
tasawuf dalam hidup menjadikan manusia berkepribadian yang shalih dan
berperilaku baik dan mulia, serta ibadahnya berkualitas. Mereka yang masuk dalam
sebuah tarekat atau aliran
tasawuf diharuskan mengisi kesehariannya untuk hidup sederhana, jujur,
istiqamah dan tawadhu, serta sifat-sifat keshalehan lainnya.
·
Fungsi
Tasawuf Dalam Kehidupan Modern
Hakikat
tasawuf adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui penyucian diri dan
amaliyah-amaliyah Islam. Dan memang ada beberapa ayat yang memerintahkan untuk
menyucikan diri (tazkiyyah al-nafs) di antaranya:
Artinya:
"Sungguh, bahagialah orang yang menyucikan jiwanya" (Q.S. Asy-syam [91]:9);
"Sungguh, bahagialah orang yang menyucikan jiwanya" (Q.S. Asy-syam [91]:9);
Artinya :
"Hai
jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi
diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam surga-Ku" (QS. Al Fajr: 28-30).
Atau
ayat yang memerintahkan untuk berserah diri kepada Allah,
Artinya :
"Katakanlah:
Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tema menyerahkan diri (kepada)
Allah" (QS. Al An'am: 162-163).
Jadi,
fungsi tasawuf dalam hidup adalah menjadikan manusia berkeperibadian yang
shalih dan berperilaku baik dan mulia serta ibadahnya berkualitas. Mereka yang
masuk dalam sebuah tharekat atau aliran tasawuf dalam mengisi kesehariannya
diharuskan untuk hidup sederhana, jujur, istiqamah dan tawadhu. Semua itu bila dilihat pada diri
Rasulullah SAW, yang pada dasarnya sudah menjelma dalam kehidupan
sehari-harinya. Apalagi di masa remaja Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai
manusia yang digelari al-Amin, Shiddiq, Fathanah, Tabligh, Sabar, Tawakal,
Zuhud, dan termasuk berbuat baik terhadap musuh dan lawan yang tak berbahaya
atau yang bisa diajak kembali pada jalan yang benar. Perilaklu hidup Rasulullah
SAW yang ada dalam sejarah kehidupannya merupakan bentuk praktis dari cara
hidup seorang sufi.
Jadi,
tujuan terpenting dari tasawuf adalah lahirnya akhlak yang baik dan menjadi
orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam kehidupan modern, tasawuf menjadi
obat yang mengatasi krisis kerohanian manusia modern yang telah lepas dari
pusat dirinya, sehingga ia tidak mengenal lagi siapa dirinya, arti dan tujuan
dari hidupnya. Ketidakjelasan atas makna dan tujuan hidup ini membuat
penderitaan batin. Maka lewat spiritualitas Islam lading kering jadi tersirami
air sejuk dan memberikan penyegaran serta mengarahkan hidup lebih baik dan
jelas arah tujuannya.
·
Peranan
Tasawuf dalam Kehidupan Modern
Pada
masa yang akan datang, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
industrialisasi akan berlangsung terus dan sangat menentukan peradaban umat
manusia. Akan tetapi, masalah-masalah moral dan etika akan ikut mempengaruhi
pilihan strategi dalam mengembangkan peradaban di masa depan. Dalam kondisi
kebudayaan seperti itu, ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi dalam corak
keberagaman umat islam. Salah satu kecenderungan itu adalah islam lebih
berfungsi sebagai ajaran etika akibat proses modernisasi dan sekularisasi yang
secara perlahan-lahan hanya memberikan peluang yang sangat kecil bagi
penghayatan teologis dan normative. Dalam keadaan ini, islam dihayati dan
diamalkan sebagai sesuatu yang spiritual. Artinya, sebagai reaksi terhadap
perubahan masyarakat yang sangat cepat akibat kemajuan ilmu pengetahuan,
teknologi dan industrialisasi. Oleh karena itu, kita sepakat bahwa kehidupan
modern harus mempunyai landasan yang kuat, yaitu akidah islam yang bersumber
dari Al Quran dan Hadits.
Bagi
masyarakat terbelakang, islam harus digambarkan sebagai ajaran yang mendorong
kemajuan. Bagi masyarakat maju, islam harus ditekankan sebagai ajaran spiritual
dan moral. Strategi ini sebenarnya ditujukan untuk menyeimbangkan ayunan
pendulum. Ketika pendulum itu bergerak ke ujung kiri, maka kita harus menariknya
ke kanan. Demikian juga, ketika bergerak ke ujung kanan, kita harus menariknya
ke kiri. Dengan cara seperti ini maka akan terbangun kehidupan yang seimbang
antara lahir dan batin, dunia dan ukhrawi, serta individu dan masyarakat.
Keseimbangan ini harus menjadi roh bagi peradaban manusia dalam kehidupan
modern sekarang ini.
·
Menempuh
Jalan Tasawuf
Untuk
menjadikan hidup lebih baik dan ada nuansa sufistiknya, tentu saja harus
melakukan latihan spiritual secara baik, benar, dan berkesinambungan. Karena itu,
bagi seorang penempuh tasawuf harus melakukan beberapa langkah, yaitu :
ü Pertama yang harus dilakukan adalah
taubat. Ia harus menyesal atas dosa-dosanya yang lalu dan betul-betul tidak
berbuat dosa lagi.
ü Kedua, untuk memantapkan taubatnya itu
ia harus zuhud. Ia mulai menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Ia
mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat, puasa, shalat, membaca
al-Qur'an dan dzikir, sedikit tidur dan banyak beribadat serta yang dicari
hanya kebahagiaan rohani dan kedekatan dengan Allah.
ü Ketiga adalah wara'. Ia menjauhkan dari
perbuatan-perbuatan syubhat. Juga tidak memakan makanan atau minuman yang tidak
jelas kedudukan halal-haramnya.
ü Keempat adalah faqr. Ia menjalani hidup
kefakiran. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya
untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya.
ü Kelima adalah ia harus sabar. Bukan
hanya dalam menjalankan perintah-perintah Allah yang berat dan menjauhi
larangan-larangan-Nya, tapi juga sabar dalam menerima percobaan-percobaan berat
yang ditimpakan Allah kepadanya. Ia juga sabar dalam menderita.
ü Keenam adalah tawakal. Ia menyerahkan
diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Allah. Ia tidak memikirkan hari esok;
baginya cukup apa yang ada untuk hari ini.
ü Ketujuh adalah ridla. Ia tidak menentang
cobaan dari Allah, bahkan ia menerima dengan senang hati. Di dalam hatinya
tidak ada perasaan benci, yang ada hanyalah perasaan senang. Ketika malapetaka
turun, hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Allah.
Itu
semua hanya hanya latihan untuk memasuki dunia sufistik. Adapun untuk memasuki
pintu tasawuf, atau sufi, ada beberapa tahapan yang lebih tinggi dari sekedar
membersihkan atau mengosongkan diri (takhali), mengisinya kembali dengan
nilai-nilai ilahiyah (tahalli) dan kemudian tajalli, atau merasakan manifestasi
Ilahi dalam kehidupan dunia ini.
Selanjutnya,
bila ia memang berada dalam perjalanan "menjadi" sufi, ia akan
mengalami mukasyafah atau penyingkapan sesuatu yang tidak diketahuinya,
kemudian menjadi tahu. Dari tahap ini ia akan berlanjut pada musyahadah,
menyadari sekaligus bersaksi bahwa diri ini tiada apa-apanya. Yang ada dan
berada hanya Allah Yang Mahaesa. Tidak ada yang Ada selain Ia. Seseorang yang
berada dalam posisi ini pantas disebut muwahid (orang yang bertauhid). Posisi
ini akan terus berlanjut pada penyatuan dengan Tuhan. Namun dalam tahap ini
kadang tidak setiap orang mampu menerima pengalaman seorang sufi yang mengalami
ektase (fana). Sebab kalimat yang terlontar ketika dalam keadaan fana adalah
kata-kata "janggal" seperti yang dilontarkan Abu Mansur Al-Hallaj,
Abu Yazid Al-Busthomi, Syeikh Siti Jenar, dan lainnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan :
Tasawuf adalah upaya
melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan diri dari pengaruh
kehidupan dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah SWT.
Ajaran tasawuf yang benar adalah yang tidak
mengabaikan akhlak terhadap sesama manusia. Jadi, bukan hanya hubungan vertikal
dengan Tuhan saja yang harus di bina, namun perlu juga hubungan dengan sesama
manusia dengan
akhlak yang terpuji. Dalam Islam, bahwa walaupun tujuan hidup harus diarahkan
ke alam akhirat, namun setiap muslim diwajibkan untuk tidak melupakan urusan
dunianya. Setiap muslim wajib kerja keras untuk menikmati rezeki Tuhan yang
telah dihalalkan untuk umat-Nya, asal diperoleh melalui jalan yang halal. Yakni
berlomba dengan cara yang jujur dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Akan
tetapi mengutamakan kehidupan dunia dan berpandangan materialis-sekuler
sangatlah dicela dan diharamkan dalam Islam.
Fungsi
Tasawuf :
Fungsi
umum:
·
agar kita itu mencontohi Rasulullah dalam perilaku kehidupan
sehari-hari.
·
menyeimbangkan lahir dan batin dunia dan akhirat.
·
agar hati ini teduh redup biar tidak gelisah.
·
membuat kesadaran sosial menjadi lebih tinggi.
Fungsi
khusus:
·
untuk membersihkan hati kepada Allah.
·
membersihkan jiwa dari pengaruh keduniaan.
·
menerangi jiwa dari kegelapan.
·
memperteguhkan dan menyuburkan keimanan.
BAB IV
DAFTAR
PUSTAKA
1. Abudin Nata, Dr. MA. Akhlak
Tasawuf. Jakarta: RadjaGrafindo Persada, 2002
2. al-Ghazali. Ihya’ Ulumu al-Din. Jilid
III. Beirut: Dar al-Fikr, t.t.
3. Asmaran As, Drs. MA. Pengantar
Studi Tasawuf. Jakarta: RadjaGrafindo Persada, 1996
4. MAHJUDIN, Drs. 1991. Kuliah
Akhlak-Tasawuf. Jakarta: Kalam Mulia.
5. MUSTOFA, Drs. H. A. 1999. Akhlak-Tasawuf.
Bandung: CV. Pustaka Setia.
6. NATA, Prof. Dr. H. ABUDDIN,
M.A. 2006. Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT. Taja Grafindo Persada.
7. Permadi, K.Drs. S.H. Pengantar
Ilmu Tasawuf. Jakarta: Rineka Cipta, 2004
8. Rosihon Anwar, Drs. M.Ag. Drs.
Mukhtar Solihin, M.Ag. Ilmu Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 2000.
9. Simuh. Tasawuf dan
Perkembangannya Dalam Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996
Web :
[4] . Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia,
(Jakarta; Hidakarya Agung, 1990), h. 362.
[5] . Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf, (Bandung;
Pustaka Setia, 2004), h. 58.
[6] . Abuddin Nata, Op.cit.,
h. 204.


0 Response to "tassawuf"
Posting Komentar