BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Islam sebagaimana dijumpai dalam sejarah,
ternyata tidak sesempit seperti yang dipahami oleh masyarakat Islam sendiri
pada umumnya. Dalam sejarah terlihat bahwa Islam yang bersumber kepada
al-Qur’an dan as-Sunnah dapat berhubungan dengan pertumbuhan masyarakat luas.
Dari persentuhan tersebut lahirlah berbagai disiplin ilmu keislaman, salah
satunya adalah tasawuf.
Kajian tasawuf adalah merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari kajian Islam di Indonesia. Sejak masuknya Islam di Indonesia
telah tampak unsur tasawuf mewarnai kehidupan keagamaan masyarakat, bahkan
hingga saat ini pun nuansa tasawuf masih kelihatan menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari pengalaman keagamaan sebagian kaum Muslimin di Indonesia,
terbukti dengan semakin maraknya kajian Islam bidang ini dan juga melalui
gerakan tarekat Muktabaran yang masih berpengaruh di masyarakat.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa saja ajaran praktis
akhlak tasawuf ?
2.
Bagaimana pengaruh ilmu
akhlak tasawuf ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Macam-macam Tasawuf
2.1.1 Tasawuf Akhlaqi
Tasawuf akhlaqi adalah tasawuf yang
berkonstrasi pada teori-teori perilaku, akhlaq atau budi pekerti atau perbaikan
akhlaq. Dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan, tasawuf seperti
ini berupaya untuk menghindari akhlaq mazmunah dan mewujudkan akhlaq mahmudah.
Tasawuf seperti ini dikembangkan oleh ulama’ lama sufi.
Dalam pandangan para sufi
berpendapat bahwa untuk merehabilitasi sikap mental yang tidak baik diperlukan
terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriyah. Oleh karena itu pada tahap-tahap
awal memasuki kehidupan tasawuf, seseorang diharuskan melakukan amalan dan
latihan kerohanian yang cukup berat tujuannya adalah mengusai hawa nafsu,
menekan hawa nafsu, sampai ke titik terendah dan -bila mungkin- mematikan hawa
nafsu sama sekali oleh karena itu dalam tasawuf akhlaqi mempunyai tahap sistem
pembinaan akhlak disusun sebagai berikut:
a. Takhalli
Takhalli merupakan langkah pertama
yang harus di lakukan oleh seorang sufi. Takhalli adalah usaha mengosongkan
diri dari perilaku dan akhlak tercela. Salah satu dari akhlak tercela yang
paling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain adalah kecintaan yang
berlebihan kepada urusan duniawi. Takhalli ini dapat dicapai dengan menjauhkan
diri dari kemaksiatan, kelezatan atau kemewahan dunia, serta melepaskan diri
dari hawa nafsu yang jahat, yang kesemuanya itu adalah penyakit hati yang dapat
merusak. Menurut kelompok sufi, maksiat dibagi menjadi dua, yakni maksiat lahir
dan maksiat batin, Maksiat lahir adalah segala bentuk maksiat yang dilakukan
atau dikerjakan oleh anggota badan yang bersifat lahir. Sedangkan maksiat batin
adalah berbagai bentuk dan macam maksiat yang dilakukan oleh hati, yang
merupakan organ batin manusia.
Kelompok sufi beranggapan bahwa
penyakit-penyakti dan kotoran hati yang sangat berbahaya dapat menjadi hijab
untuk dapat dekat dengan tuhan. Sehingga agar mudah menerima pancaran Nur
Illahi dan dapat mendekatkan diri dengan tuhan maka hijab tersebut haruslah
dihapuskan dan dihilangkan. Yakni, dengan berusaha membersihkan hati dari
penyakit-penyakit hati dan kotoran hati yang dapat merusak. Upaya pembersihan
hati ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
·
Menghayati segala bentuk ibadah,
agar dapat memahaminya secara hakiki
·
Berjuang dan berlatih membebaskan
diri dari kekangan hawa nafsu yang jahat dan menggantinya dengan sifat-sifat yang
positif.
·
Menangkal kebiasaan yang buruk dan
mengubahnya dengan kebiasaan yang baik.
·
Muhasabah, yakni koreksi terhadap
diri sendiri tentang keburukan-keburukan apa saja yang telah dilakukan dan
menggantinya dengan kebaikan-kebaikan.
b. Tahalli
Secara etimologi kata Tahalli
berarti berhias. Sehingga Tahalli adalah menghiasi diri dengan sifat-sifat yang
terpuji serta mengisi diri dengan perilaku atau perbuatan yang sejalan dengan
ketentuan agama baik yang bersifat lahir maupun batin. Definisi lain
menerangkan bahwa Tahalli berarti mengisi diri dengan perilaku yang baik dengan
taat lahir dan taat batin, setelah dikosongkan dari perilaku maksiat dan
tercela. Diterangkan pula bahwa Tahalli adalah menghias diri dengan jalan
membiasakan diri dengan sifat dan sikap serta perbuatan yang baik.
Tahalli adalah tahap yang harus
dilakukan setelah tahap pembersihan diri dari sifat-sifat, sikap dan perbuatan
yang buruk ataupun tidak terpuji, yakni dengan mengisi hati dan diri yang telah
dikosongkan aatu dibersihkan tersebut dengan sifat-sifat, sikap, atau tindakan
yang baik dan terpuji. Dalam hal yang harus dibawahi adalah pengisian jiwa
dengan hal-hal yang baik setalah jiwa dibersihkan dan dikosongkan dari hal-hal
yang buruk bukan berarti hati harus dibersihkan dari hal-hal yang buruk
terlebih dahulu, namun ketika jiwa dan hati dibersihkan dari hal-hal yang
bersifat kotor, merusak, dan buruk harus lah diiringi dengan membiasakan diri
melakukan hal-hal yang bersifat baik dan terpuji. Karena hal-hal yang buruk
akan terhapuskan oleh kebaikan.
Tahalli juga berarti menghiasi diri
dengan sifat-sifat Allah. Yaitu menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji.
Apa bila jiwa dapat diisi dan dihiasi dengan sifat-sifat yang terpuji, hati
tersebut akan menjadi terang dan tenang, sehingga jiwa akan menjadi mudah
menerima nur Illahi karena tidak terhijab atau terhalang oleh sifat-sifat yang
tercela dan hal-hal yang buruk. Hal-hal yang harus dimasukkan, meliputi sikap
mental dan perbuatan luhur itu adalah seperti taubat, sabar, kefakiran, zuhud,
tawakal, cinta, dan ma’rifah.
c. Tajalli
Tajalli adalah tahap yang dapat
ditempuh oleh seorang hamba ketika ia sudah mampu melalui tahap Takhalli dah
Tahalli. Tajalli adalah lenyapnya atau hilangnnya hijab dari sifat
kemanusiaan atau terangnya nur yang selama itu tersembunyi atau fana segala
sesuatu selain Allah, ketika nampak wajah Allah.
Tahap Tajalli di gapai oleh seorang
hamba ketika mereka telah mampu melewati tahap Takhalli dan Tahalli. Hal ini
berarti untuk menempuh tahap Tajalli seorang hamba harus melakukan suatu usaha
serta latihan-latihan kejiwaan atau kerohanian, yakni dengan membersihkan
dirinya dari penyakit-penyakit jiwa seperti berbagai bentuk perbuatan maksiat
dan tercela, kemegahan dan kenikmatan dunia lalu mengisinya dengan
perbuatan-perbuatan, sikap, dan sifat-sifat yang terpuji, memperbanyak dzikir,
ingat kepada Allah, memperbanyak ibadah dan menghiasi diri dengan amalan-amalan
mahmudah yang dapat menghilangkan penyakit jiwa dalam hati atau dir seorang
hamba.
d.
Munajat
Munajat berarti melaporkan segala
aktivitas yang dilakukan kehadirat Allah SWT. Maksudnya adalah dalam munajat
seseorang mengeluh dan mengadu kepada Allah tentang kehidupan yang seorang
hamba alami dengan untaian-untaian kalimat yang indah diiringi dengan
pujian-pujian kebesaran nama Allah.
Menurut kaum sufi, tangis air mata
itu menjadi salah satu amal adabiyah atau , suatu riyadhah bagi orang sufi
ketika bermunajat kepada Allah. Para kaum sufi pun berpandangan bahwa
tetesan-tetesan air mata tersebut merupakan suatu tanda penyeselan diri atas
kesalahan-kesalahan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sehingga,
bermunajat dengan do’a dan penyesalan yang begitu mendalam atas semua
kesalahan yang diiringi dengan tetesan-tetesan air mata merupakan salah
satu cara untuk memperdalam rasa ketuhanan dan mendekatkan diri kepada Allah.
e.
Muraqabah
Muraqabah menurut arti bahasa berasal dari kata raqib
yang berarti penjaga atau pengawal. Muraqabah menurut kalangan sufi
mengandung pengertian adanya kesadaran diri bahwa ia selalu berhadapan dengan
Allah dalam keadaan diawasi-Nya. Muroqobah juga dapat diartikan merasakan
kesertaan Allah, merasakan keagungan Allah Azza wa Jalla di setiap waktu dan
keadaan serta merasakan kebersamaan-Nya di kala sepi atau pun ramai.
Sikap muroqobah ini akan
menghadirkan kesadaran pada diri dan jiwa seseorang bahwa ia selalu diawasi dan
dilihat oleh Allah setiap waktu dan dalam setiap kondisi apapun. Sehingga
dengan adanya kesadaran ini seseorang akan meneliti apa-apa yang mereka telah
lakukan dalam kehidupan sehari-hari, apakah ini sudah sesuai dengan kehendak
Allah ataukan malah menyimpang dari apa yang di tentukan-Nya.
Ketika muroqobah dilakukan untuk
menghadirkan kemantapan hati dan ketenangan batin seseorang dalam praktik
mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini dikarenakan, bila sudah tertanam
kesadaran bahwa seseorang selalu melihat Allah dengan hatinya dan ia sadar bahwa
Allah selalu memandangnya dengan penuh perhatian maka seseorang tersebut akan
semakin mantab untuk mengamalkan dan melakukan apa-apa yang diridloi oleh Allah
sehingga batin nya akan semakin terbuka untuk dapat mendekatkan dirinya pada
Allah.
f.
Muhasabah
Muhasabah seringkali diartikan dengan memikirkan,
memperhatikan, dan memperhitungkan amal dari apa-apa yang ia sudah lakukan dan
apa-apa yang ia akan lakukan. Muhasabah juga didefinisikan dengan meyakini
bahwa Allah mengetahui segala fikiran, perbuatan, dan rahasia dalam hati yang
membuat seseotang menjadi hormat, takut, dan tunduk kepada Allah.
Di dalam muhasabah, seseorang
terus-menerus melakukan analisis terhadap diri dan jiwa beserta sikap dan
keadaannya yang selalau berubah-ubah. Orang tersebut menghisab dirinya sendiri
tanpa menunggu hingga hari hari kebangkitan. Dalam muhasabah hal-hal yang perlu
dipaerhatikan adalah menghisab tentang kebajikan dan kewajiban yang sudah
dilaksanakan dan seberapa banyak maksiat yang sudah dilaksanakan. Apabila
kemaksiatan lebih banyak dilakukan, maka orang tersebut harus menutupnya dengan
kebaikan-kebaikan diringi dengan taubatan nasuha.
Dengan demikian sikap mental
muhasabah dalah salah satu sikap mental yang harus ditanamkan dalam diri dan
jiwa agar dapat meningkatkan kualitas keimanan kita terhadap Allah SWT.
Sehingga sikap mental ini akan dapat meningkatkan kualitas ibadah kita kepada
Allah SWT, dan membukakan jalan untuk menuju kepada Allah SWT.
2.1.2 Tasawuf Falsafi
Tasawuf
falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan
visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi
menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminology falsafi
tersebut berasal dari bermacam-macamajaran filsafat yang telah mempengaruhi
para tokohnya.
Menurut
at-Taftazani, tasawuf falsafi muncul dengan jelas dalam khazanah islam sejak
Islam sejak abad keenam hijriyah, meskipun atikohnya baru dikenal seabad
kemudian.
Ciri umum
tasawuf falsafi menurut At-Taftazani adalah ajarannya yang samar-samar akibat
banyaknya istilah khusus yang hanya dapat difahami oleh siapa aja yang memahami
ajaran tasawuf jenis ini. Tasawuf falsafi tidak hanya dipandang sebagai
filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa(dzauq), tetapi tidak
dapat pula dikategorikan sebagai tasawuf dalam pengertian yang murni, karena
ajarannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada
panteisme.
Para sufi
yang juga filosof pendiri aliran tasawuf ini mengenal dengan baik filsafat
Yunani serta berbagai alirannya seperti Socrates, Aristoteles, aliran Stoa, dan
aliran Neo_Platonisme dengan filsafatnya tentang emanasi. Bahkan mereka pun
cukup akrab dengan filsafat yang sering kali disebut hermenetisme yang
karya-karyanya sering diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan filsafat-filsafat
Timur kuno, baik dari Persia maupun dari India serta filsafat-filsafat Islam
seperti yang diajarkan oleh Al-Farabi dan Ibn Sina. Mereka pun
dipengaruhi aliran Batiniyah sekte Ismailiyah aliran Syi’ah dan risalah-risalah
Ikhwan Ash-Shafa.
Objek yang menjadi perhatian para
tasawuf filosof adalah
a. latihan
rohaniyah dengan rasa, intuisi, serta instroprksi diri yang timbul darinya.
Mengenai latihan rohaniah dengan tahapan Maqam maupun keadaan (hal), rohani
serta rasa(dhauq
b. Iluminasi
atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, seperti sifat-sifat robbani,
‘arty, kursi, malaikat, wahyu, kenabian, roh, hakikat realitas segala yang
wujud, yang gaib, maupun yang tampak, dan susunan kosmos, terutama tentang
penciptaannya. Mengenai iluminasi ini para sufi dan juga filosof tersebut
melakukan latihan rohaniah dengan mematikan kekuatan syhwat serta menggairahkan
roh dengan jalan menggiatkan Dzikir, dengan dzikir menurut mereka, jiwa dapat
memahami hakikat realitas-realitas.
2.1.3 Tasawuf ‘Irfani
Tasawuf ‘Irfani adalah tasawuf yang berusaha menyikap hakikat kebenaran
atau ma’rifah diperoleh dengan tidak melalui logika atau pembelajaran atau
pemikiran tetapi melalui pemebirian Tuhan (mauhibah). Ilmu itu diperoleh karena
si sufi berupaya melakukan tasfiyat al-Qalb. Dengan hati yang
suci seseorang dapat berdialog secara batini dengan Tuhan sehingga pengetahuan
atau ma’rifah dimasukkan Allah ke dalam hatinya, hakikat kebenaran tersingkap
lewat ilham (intuisi).
Tokoh-tokoh
yang mengembangkan tasawuf ‘irfani antara lain : Rabi’ah al-Adawiyah (96 – 185
H), Dzunnun al-Misri (180 H – 246 H), Junaidi al-Bagdadi (W. 297 H), Abu Yazid
al-Bustami (200 H – 261 H), Jalaluddin Rumi, Ibnu ‘Arabi, Abu Bakar as-Syibli,
Syaikh Abu Hasan al-Khurqani, ‘Ain al-Qudhat al-Hamdani, Syaikh Najmuddin
al-Kubra dan lain-lainnya.
2.1.4 Tasawuf Al-Ghazali
Menurut Imam
Ghazali, tasawuf adalah “Jalan (thariq) ditempuh dengan mempersembahkan
kegiatan mujahadah (perjuangan) dan menghapus sifat-sifat tercela dan
memutuskan semua ketergantungan dengan makhluk, serta menyongsong esensi
cita-cita bertemu Allah. Jika tujuan itu tercapai, maka Allah-lah yang menjadi
penguasa dan pengendali hati hamba-Nya, dan Dia menerangi hamba-Nya dengan
cahaya ilmu.” “Jika Allah berkenan mengurusi hati hamba-Nya, maka Dia akan
menambahkan rahmat pada hati tersebut; cahaya hati tersebut akan bersinar
cemerlang, dada menjadi lapang, terbuka baginya rahasia kekuasaan Allah, hijab
yang menghalangi kemuliaan hati akan terbuka dengan kelembutan rahmat, serta
hakikat masalah-masalah ketuhanan akan tersibak.”
Jika semua ini telah dicapai, maka seorang sufi telah mencapai derajat musyahadah yang menjadi tujuan tasawuf
Jika semua ini telah dicapai, maka seorang sufi telah mencapai derajat musyahadah yang menjadi tujuan tasawuf
2.2.1
Pengaruh Tasawuf dalam Pemikiran dan Intelektual Islam
Tasawuf memiliki pengaruh cukup kuat di dalam disiplin ilmu Islam lainnya. Ia
merupakan bibit keharuman dalam Islam. Sebab menjadi inti cahaya (Nur)
Muhammad, merupakan pengajaran jiwa dan ruhaninya. Ia juga memiliki andil cukup
besar dalam mengungkap makna-makna Al Quran dan hadis Nabi. Di dalam
pengetahuan Islam sendiri, tasawuf merupakan kekuatan yang besar meski harus
menghadapi serangan bertubi-bertubi dari sayap kanan dan kiri. Tasawuf
merupakan khazanah besar sepanjang penggalian pengetahuan alam.
Tasawuf telah berhasil menyumbangkan andilnya yang tidak sedikit dalam
perluasan Islam. Ia ikut menaklukkan bangsa-bangsa yang yang selama ini masih
belum tersentuh Islam (hal ini memang diperlukan dalam periode Islam pertama,
karena-ketika itu-obyek dakwah masih asing melihat Islam, dan cenderung
memusuhinya, ed...), atau belum dapat dibangunnya sentral dakwah di
tengah-tengah mereka. Lambat laun kaum sufi berhasil menembus jantung Afrika,
dataran Asia dan hampir merata di kepulauan teduh. Merekalah yang berhasil
menempatkan Islam di hati umat manusia, dengan kelemahlembutan dan kasih sayang
yang mereka kedepankan kepadanya. Merekalah yang berdiri di hadapan umat, mengobati
kebobrokan mental, dan meringankan bencana hidup, serta menyelamatkan anak
manusia dari jurang kesesatan dan kebimbangan. Mereka berani menghadapi
para khalifah, juga para pejabat pemerintah, guna menegakkan keadilan di antara
para pemimpin tersebut.
Tasawuf benar-benar berhasil mendirikan perguruan tinggi di jantung dunia Islam
beratus tahun sebelum berdirinya perguruan lainnya. Dengan demikian, madrasah
atau perguruan-perguruan milik para tokoh tasawuf dan pengikutnya menjadi
madrasah atau perguruan percontohan yang bergerak sendiri di planit bumi. Ia
merupakan akademi ilmiah dimana para gurunya menerima cahaya dari Allah. Mereka
terbangkan hati ke langit cinta.
Di dalam akademi tersebut juga mereka tuangkan ilmu kepada para pengikut yang
sekaligus sebagai muridnya. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa, metode
pendidikan mental dan akhlak masing-masing para tokoh sufi dan pengikutnya di
sekolah tinggi mereka itu, menjadi metode pendidikan tertinggi di dunia. Sebab,
pendidikan mereka mempunyai tujuan yang paling terpuji, semenjak terbentuknya
belajar mengajar antara guru dan anak didiknya.
Para penyair tasawuf telah berjasa dalam mengangkat prosa sebagai salah satu
bentuk di antara disiplin ilmu yang ada. Prosa-prosa karya mereka menjadi
senjata di dalam aktifitas dakwah, memperbaiki warna kehidupan, serta sedikit
demi sedikit meredam kebrutalan (vandalisme) dan kebiadaban serta setiap gerak
yang mengarah kepada prilaku amoral.
Tasawuf adalah dunia sempurna. Di dalamnya terdapat ilmu, akhlak, pengetahuan,
filsafat, fiqh, usul, kisah-kisah serta segala macam yang diperlukan pada
pendalaman ilmu, budi pekerti, kabahagiaan, kelezatan, ketentraman, kebahagiaan
yang harum. Darinya mengalir cinta dan sukacita.
2.2.2
Pengaruh Tasawuf dalam Sosial dan
Ekonomi Umat
Saat
ini kita berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern, atau sering pula
disebut sebagai masyarakat yang sekuler. Pada umumnya, hubungan antara anggota
masyarakatnya atas dasar prinsip-prinsip materialistik. Mereka merasa bebas dan
lepas dari kontrol agama dan pandangan dunia metafisis. Dalam masyarakat modern
yang cenderung rasionalis, sekuler dan materialis, ternyata tidak menambah
kebahagiaan dan ketentraman hidupnya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Hosein Nasr
menilai bahwa akibat masyarakat modern yang mendewakan ilmu pengetahuan dan
teknologi, berada dalam wilayah pinggiran eksistensinya sendiri. Masyarakat
yang demikian adalah masyarakat Barat yang telah kehilangan visi keilahian. Hal
ini menimbulkan kehampaan spiritual, yang berakibat banyak dijumpai orang yang
stress dan gelisah, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.
Untuk
mengantisipasi hal-hal semacam di atas, maka diperlukan keterlibatan langsung
tasawuf dalam kancah politik dan ekonomi, hal ini dapat kita lihat dalam
sejarah Tarekat Sanusiyah di berbagai daerah di Afrika Utara, Dalam kiprahnya,
tarekat ini tidak henti-hentinya bekerja dengan pendidikan keruhanian, disiplin
tinggi, dan memajukan perniagaan yang menarik orang-orang ke dalam pahamnya.
Maka Fazlur Rahman menceritakan bahwa tarekat ini menanamkan disiplin tinggi
dan aktif dalam medan pejuangan hidup, baik sosial, politik, dan ekonomi.
Pengikutnya dilatih menggunakan senjata dan berekonomi (berdagang dan bertani).
Gerakannya pada perjuangan dan pembaharuan, dan programnya lebih berada dalam
batasan positivisme moral dan kesejahteraan sosial, tidak
"terkungkung" dalam batasan-batasan spiritual keakhiratan. Coraknya
lebih purifikasionis dan lebih aktif, memberantas penyelewengan moral, sosial
dan keagamaan, maka Fazlur Rahman menamakannya sebagai Neo-Sufisme.
Kebutuhan
akan kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang
keberhasilan umat Islam demi menjaga dan mengangkat martabat umat itu sendiri,
kerena sudah banyak terbukti bahwa umat Islam sering dijadikan bulan-bulanan
oleh orang-orang kafir karena kelemahan mereka dibidang ekonomi yang akhirnya
menjadikan mereka lemah dalam bidang teknologi dan politik, hal ini adalah
suatu bahaya yang wajib dihilangkan dan dijauhi oleh orang-orang yang percaya
terhadap Allah dan rasulnya, kalau kita perhatikan saat ini bahaya dari
terbengkalainya perekonomian sangat membahayakan umat, oleh karena itu
pembenahan dalam bidang ekonomi sangat diperlukan sebagai perantara bagi umat
untuk memperoleh kedamaian di Dunia dan Akhirat, dalam sebuah kaidah, ulama'
membuat sebuah kaidah di dalam menangapi berbagai perintah Allah demi
memperoleh kesempurnaan dalam menjalankanya yang berbunyi: "segala bentuk
perantara yang bisa menunjang kesempurnaan suatu kewajiban maka hukumnya
menjadi wajib".
Dari
serangkaian paparan di atas kiranya kita bisa mengetahui bahwa perkembangan
tasawuf mulai dari awal munculnya sampai pada saat ini memang dituntut untuk
mengalami berbagai bentuk perubahan yang di sesuaikan dengan keadaan dan pola
kebiasaan dari suatu Masyarakat, karana tasawuf ibarat makanan yang disuguhkan
oleh para mursyid kepada suatu masa atau masyarakat yang berbeda-beda di setiap
tempat dan waktu dan membutuhkan keahlian dan racikan yang berbeda pula, tetapi
perubahan bentuk itu hanya sebatas pada bentuk luarnya saja, secara garis besar
konsep dasar yang ada dalam tasawuf hanyalah satu, yaitu keyakinan, ketundukan,
kepatuhan, pendekatan terhadap serta menjahui hal-hal yang bisa menganggu
ibadah kepada Allah yang satu.
Manusia
selama hidup di dunia tidak bisa terlepas oleh factor-faktor yang mempengaruhi
dirinya, baik yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri maupun factor
yang berasal dari luar dirinya. Factor yang berasal dari dalam dirinya bisa
berupa sifat-sifat yang sudah melekat sejak dia lahir atau bersifat genetic
sehingga sulit seandainya ingin merubah sifat bawaan tersebut. Sifat-sifat
tersebut seperti pemarah, lemah lembut, berpendirian keras, dan lain
sebagainya. Sedangkan factor yang berasal dari luar sangat beragam bentuknya,
seperti factor lingkungan tempat dia tinggal, orang lain (bisa berupa teman,
guru, kedua orang tua, dan lain-lain), agama, adat istiadat, budaya, dan lain
sebagainya.
Kehidupan
masyarakat di perkotaan sangat berbeda dengan kehidupan di pedesaan. Tradisi
dan budaya nenek moyang di masyarakat pedesaan masih sangat dijaga
kelestariannya, Hal ini disebabkan adanya kekompakan dan gotong-royong yang
masih membudaya, baik di kalangan kaum tua maupun kaum mudanya. Sifat komunal
tersebut sangat sulit sekali ditemukan apabila kita pergi ke perkotaan.
Individualisme dan saling mementingkan diri sendiri merupakan ciri khas
masyarakat perkotaan.
Tasawuf
sebagai suatu ajaran yang mengajarkan tentang prilaku atau etika manusia, baik
terhadap antar sesama manusia maupun kepada Tuhan-Nya, sangat mempengaruhi
warna keislaman di Indonesia. tetapi pengaruh tersebut tidak sepenuhnya merata
masuk ke semua lapisan mesyarakat.
2.2.4
Masyarakat Perkotaan
Dan Pedesaan dalam Konsep Spiritualitas
Masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community. Pengertian
masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya dan ciri-ciri
kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.
Dibawah ini akan diuraikan secara singkat beberapa perbedaan yang menonjol
antara masyarakat desa dan masyarakat kota, yaitu:
- Kehidupan keagamaan di kota
berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
- Jalan pikiran rasional yang pada
umumnya dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan bahwa interaksi-interaksi
yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor
pribadi.
- Perubahan-perubahan sosial tampak
dengan nyata di kota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima
pengaruh-pengaruh dari luar.
Belakangan ini
masyarakat kota di Indonesia mengalami peningkatan dalam hal minat mereka
terhadap berbagai macam jalan spiritual. Fenomena tersebut muncul berakar dari
gejolak masyarakat perkotaan di Indonesia sebagai akibat krisis yang
berkepanjangan yang menimpa negeri ini. Juga dekadensi moralitas yang
mempengaruhi gaya hidup orang kota.
Spiritualitas adalah bidang penghayatan batiniah kepada Tuhan melalui laku-laku
tertentu yang sebenarnya terdapat pada setiap agama. Namun, tidak semua
penganut agama menekuninya. Bahkan beberapa agama memperlakukan aktivitas
pemberdayaan spiritual sebagai praktik yang tertutup, karena khawatir dicap
"klenik".
Dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan, masyarakat kota cenderung mencoba
mengatasinya dengan cara mencari hiburan di tempat-tempat favorit mereka yang
sekiranya dapat memberi sedikit ketenangan dalam jiwanya yang hampa. Persoalan
hidup yang pelik, melandanya berbagai macam krisis, mulai dari krisis ekonomi,
politik, sampai krisis moral menuntut mereka untuk mencari sesuatu yang dapat
memberikan ketenangan. Tapi pada kenyataannya, tempat-tempat hiburan semacam
itu tidak lagi dapat mengobati kegersangan dalam jiwa mereka. Sesungguhnya
kekosongan yang dirasakan justru ketika manusia telah mencapai kemakmuran
material, seolah mengajarkan betapa kebahagiaan sesungguhnya tidak terletak di
sana, melainkan di bagian yang lebih bersifat ruhani (spiritual). Sekarang ini,
khususnya di masyarakat kota, muncul trend kajian-kajian yang membahas tentang
sisi-sisi spiritual dalam diri manusia yang bersifat esoteric. Kejemuan
terhadap materialisme dan intelektualisme yang selama ini mengungkung mereka
dalam lingkaran dunia material dan aturan-aturan yang bersifat formalitas
menjadi sebab ketertarikan mereka dalam dunia spiritual yang lebih cenderung
mengungkap hakikat dan substansi tanpa banyak aturan yang bersifat formal.
Spiritualitas selama ini termarginalisasi. Dan memang konsepsi penghayatan
kepada kekuasaan Tuhan dapat diterima dengan mudah oleh alam bawah sadar
masyarakat pedesaan karena hidup mereka yang "apa adanya". Mereka
bekerja untuk memenuhi keperluan hidup. Berbeda dengan kecenderungan masyarakat
perkotaan yang menjadikan agama sekadar kewajiban, Bagi masyarakat desa agama
adalah kebutuhan, yang secara praktis -setelah melalui proses pemberdayaan sisi
spiritualitasnya- dapat memberi mereka jawaban-jawaban esensial untuk melakoni
hidup. Bagi masyarakat kota, situasi kehidupan materialisme membuat materi
menjadi solusi kebahagiaan sehingga penghayatan agama terkesampingkan.
Ketika intelektualisme dan materialisme kian mengakar dalam segala segi
kehidupan kota, masyarakat mulai gamang, terutama sejak pukulan krisis ekonomi
berdampak pada merosotnya nilai materi sebagai solusi kebahagiaan.
Intelektualisme pun, pada tingkat tertentu, berbenturan dengan dinding kokoh
yang menghalangi jalan manusia menuju Tuhan. Hakikatnya, manusia adalah makhluk
spiritual yang hidup di alam materi. Bukan sebaliknya!
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Perkembangan
tasawuf mulai dari awal munculnya sampai pada saat ini memang dituntut untuk
mengalami berbagai bentuk perubahan yang di sesuaikan dengan keadaan dan pola
kebiasaan dari suatu Masyarakat, karana tasawuf ibarat makanan yang disuguhkan
oleh para mursyid kepada suatu masa atau masyarakat yang berbeda-beda di setiap
tempat dan waktu dan membutuhkan keahlian dan racikan yang berbeda pula, tetapi
perubahan bentuk itu hanya sebatas pada bentuk luarnya saja, secara garis besar
konsep dasar yang ada dalam tasawuf hanyalah satu, yaitu keyakinan, ketundukan,
kepatuhan, pendekatan terhadap serta menjahui hal-hal yang bisa menganggu
ibadah kepada Allah yang satu.
Kehidupan
masyarakat perkotaan memang tidak dapat terlepas dari materialisme dan
sekularisme, sehingga spiritualitas dalam diri mereka mengalami kekosongan dan
kegersangan yang berkepanjangan. Tetapi dengan masuknya tasawuf ke dalam
kehidupan mereka, spiritualitas dalam jiwa mereka mendapatkan ketenangan dan
ketentraman. Sehingga dalam menjalani hidup di perkotaan, akan terjadi
keseimbangan. Agama bukan lagi sebagai kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan.
3.2 Saran
Setelah penjelasan dalam makalah ini sebagai
manusia biasa penulis memohon maaf apabila terjadi kesalahan dalam penjabaran
masalah atau kesalahan dalam penulisan makalah ini.
Penulis menerima saran yang sifatnya membangun
untuk kesempurnaan dalam penulisan makalah selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
file:///D:/ /ajarantasawuf/makalahtasawuffalsafimakalahtasawuffalsafi.html
Galang Atmajaya
Ajaran-ajaran tasawuf akhlaqi.html


0 Response to "macam-macam tassawuf"
Posting Komentar