BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dzikir merupakan salah satu ajaran praktis tasawuf. Dimana tasawuf
asal katanya adalah shofw yang berarti bersih, shafa berarti jernih, suffah merupakan
sebuah kamar disamping masjid Rasulullah menurut sekh ahamad bin Muhammad zain bin Mustafa
al-fatani dalam bukunya hadiqatul azhar bahwa arti tasawwuf ialah memakai shuf
artinya bulu.
Sedangkan Asal dzikir adalah ash- safa yang berarti
bersih dan hening. Menurut bahasa artinya ingat atau sebut. Didalam al-quran
terdapat banyak perintah untuk mengingat Allah seperti surat al-jumu’ah : 10
yang berbunyi “Dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu mendapat kemenangan”. Bebarapa pembagian dzikir
diantaranya :
a. Dzikir lisan (
nafi itsbar)
b. Dzikir hati (
qalbu )
c. Dzikir rahasia
( sir )
Dalam melaksanakannya tidak ada larangan untuk
mengerjakan salah satu atau semua dzikir tersebu karena “karena Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya ( QS. Al-Baqarah : 286
).
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian zikir ?
2.
Apa sajakah macam-macam zikir itu ?
3.
Apa keutamaan dan manfaat zikir tersebut ?
4.
Apa maksud dan kaitan antara zikir dan tarekat
?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui secara lebih dalam pengertian
dari zikir.
2.
Memahami dan mengetahui macam-macam dari zikir
tersebut.
3.
Untuk mengetahui keutamaan dalam berzikir dan
manfaatnya.
4.
Untuk mengetahui keterkaitan antara zikir dan
tarekat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Dzikir
Secara etimologi, perkataan dzikir
berakar pada kataذَكَرَ، يَذْكُرُ، ذِكْرًاartinya mengingat, memperhatikan,
mengenang, mengambil pelajaran, mengenal atau mengerti dan ingatan. Di dalam Ensiklopedi
Islam menjelaskan bahwa istilah dzikir memiliki multi interpretasi, di
antara pengertian-pengertian dzikir adalah
menyebut, menuturkan, mengingat, menjaga, atau mengerti
perbuatan baik.[1][1] Dalam kehidupan manusia unsur ”ingat” ini sangat
dominan adanya, karena merupakan salah satu fungsi intelektual. Menurut
pengertian psikologi, dzikir (ingatan) sebagai suatu ”daya jiwa kita
yang dapat menerima, menyimpan dan memproduksi kembali pengertian atau
tanggapan-tanggapan kita.”[2][2]
Sedangkan dzikir dalam arti menyebut
Nama Allah yang diamalkan secara rutin, biasanya disebut wirid atau aurad.
Dan amalan ini termasuk ibadah murni (mahdhah), yaitu ibadah yang
langsung berhubungan dengan Allah SWT. Sebagai ibadah Mahdhah maka
dzikir jenis ini terikat dengan norma-norma ibadah langsung kepada Allah, yaitu
harus ma’tsur (ada contoh atau perintah dari Rasulullah Saw).
Secara terminologi definisi dzikir
banyak sekali. Ensiklopedi Nasional Indonesia menjelaskan dzikir adalah
ingat kepada Allah dengan menghayati kehadiran-Nya, ke-Maha Sucian-Nya, ke-Maha
ke-Terpujian-Nya dan ke-Maha Besaran-Nya. Dzikir merupakan sikap batin yang
bisa diungkapkan melalui ucapan Tahlil (La Ilaha illa Allah,
Artinya, Tiada Tuhan Selain Allah),
Tasbih (Subhana Allah, Artinya Maha Suci Allah), Tahmid (Alhamdulillah,
Artinya Segala Puji Bagi Allah), dan Takbir (Allahu Akbar, Artinya Allah
Maha Besar).
Dalam Shorter Ensiklopedi of
Islam, disebutkan, Dhikr in the mind (bi’l kalb) mean remembrance and
with tongue (bi’l Lisan) mentioning relating then, as ardegious technical term
(pronoun dzikr) the glorifying of Allah with certain fixed phases repeated in a
ritual order, either alone or in the mind, with peculiar breathings and
physical movement. Maksudnya, dzikir dalam hati (bi al-qolb) dan
dengan lisan (bi al-lisan) adalah penyebut, dimana keduanya berhubungan,
sebagai cara yang khusus, penyembahan kepada Allah dengan bentuk tertentu yang
pasti, diajarkan dalam suatu perintah agama, bisa keras bisa dalam hati, dengan
pernafasan khusus dan gerakan jasmani.[3][3]
Sedangkan menurut Aboe Bakar Atjeh,
dalam bukunya Pengantar Ilmu Tarekat Uraian Tentang Mistik. Dzikir
adalah ucapan yang dilakukan dengan lidah, atau mengingat Allah dengan hati,
dengan ucapan atau ingatan yang mensucikan Allah dengan memuji dengan
puji-pujian dan sanjungan-sanjungan dengan sifat yang sempurna, sifat yang
menunjukkan kebesaran dan kemurnian.[4][4]
Dzikir sebagai fungsi intelektual,
ingatan kita akan apa yang telah dipelajari, informasi dan pengalaman
sebelumnya, memungkinkan kita untuk memecahkan problem-problem baru yang kita
hadapi, juga sangat membantu kita dalam melangkah maju untuk memperoleh
informasi dan menerima realitas baru. Namun dalam pengertian disini,
pengertian yang dimaksud adalah ”Dzikir
Allah”, atau mengingat Allah.[5][5]
Dzikir dalam pengertian mengingat
Allah sebaiknya di lakukan setiap saat, baik secara lisan maupun dalam hati.
Artinya kegiatan apapun yang dilakukan oleh seorang muslim sebaiknya jangan
sampai melupakan Allah SWT. Dimanapun seorang muslim berada, sebaiknya selalu ingat
kepada Allah SWT sehingga akan menimbulkan cinta beramal saleh kepada
Allah SWT, serta malu berbuat dosa dan maksiat kepadanya.
Bagi seorang sufi, Syaikh Abu ‘Ali
al-Daqaq, dzikir merupakan tiang penopang yang sangat kuat atas jalan menuju
Allah SWT, ia adalah landasan tarekat (Thariqah) itu sendiri. Dan tidak
seorangpun dapat mencapai Allah SWT, kecuali terus menerus berdzikir kepada
Allah.[6][6]
Teungku Hasbie Ash Shiddiqie dalam
bukunya Pedoman Dzikir dan Doa, menjelaskan, dzikir adalah menyebut Allah dengan membaca tasbih(subhanallah),
membaca tahlil (la ilaha illallahu), membaca tahmid(alhamdulillahi),
membaca taqdis (quddusun), membaca takbir (allahuakbar), membaca
hauqolah (la hawla wala quwwata illa billahi), membaca hasbalah (hasbiyallahu),
membaca basmalah(bismillahirrahmanirrahim), membaca al-qur’an al
majid dan membaca doa-doa yang ma’tsur, yaitu doa yang diterima dari
Nabi Saw.[7][7]
Dari pengertian di atas, masih
banyak lagi pengertian dzikir yang dikemukakan oleh para pakar. Namun,
pengertian yang menjadi kajian dalam pembahasan ini adalah sebagaimana yang
dijelaskan oleh hadits-hadits Nabi tentang dzikir yang mencakup do’a, mengucapkan
asma al-husna, membaca al-Qur’an, tasbih (mensucikan Allah), tahmid
(memuji Allah), takbir (mengagungkan Allah), tahlil (meng-Esakan
Allah), istighfar (memohon ampunan kepada Allah), hawqolah
(mengakui kelemahan diri).
Dari sekian formulasi dzikir yang
ada tersebutlah dzikir Musabba’at al-‘Asyr dan dzikir inilah yang akan
menjadi pokok kajian dalam pembahasan skripsi ini. Dimana dzikir tersebut mulai
dipraktekkan dan dikembangkan oleh Majlis Dzikir al-Khidiriyyah di Dusun
Cipedang Bunder Mekarjati, dibawah pimpinan ustadz Musthofa Bisri, karena
beliaulah yang mendapat ijazah dari gurunya yaitu ustadz Lutfan Ibnu Badari,
pengasuh Pondok Pesantren Nurul Badri yang beralamat di Jl. Curah Keris Grati
Pasuruan sekitar tahun 2000 yang lampau.
2.2 Macam-macam dzikir
Secara umum dzikir dibagi menjadi
dua macam, yaitu dzikir dengan hati dan dzikir dengan lisan. Masing-masing dari
keduanya terbagi pada dua arti, yaitu:
1) Dzikir dari arti ingat dari yang
tadinya lupa
2) Dzikir dalam arti kekal ingatannya
Sedangkan yang dimaksud
dengan dzikir lisan dan hati adalah sebagai berikut:
1)
Dzikir dengan lisan berarti menyebut
Nama Allah, berulang-ulang kali, sifat-sifat-Nya berulang-ulang kali pula atau
pujian-pujian kepada-Nya. Untuk dapat kekal dan senantiasa melakukannya,
hendaknya dibiasakan atau dilaksanakan berkali-kali atau berulang-ulang kali.
2)
Dzikir kepada Allah dengan hati,
ialah menghadirkan kebesaran dan keagungan Allah di dalam diri dan jiwanya
sendiri sehingga mendarah daging.
Kerjasama antara lisan
(lidah) dan qalb (hati) dalam hal dzikir ini sangatlah baik, sebab
bilamana seseorang telah mengamalkan dan melakukan dengan disiplin, dengan
sendirinya akan meningkat menjadi dzikir a’dha’a, artinya seluruh badannya akan
terpelihara dari berbuat maksiat kepada Allah. Bagi seorang yang hatinya telah
bening dan jernih akan dapat mengontrol anggota badannya untuk tetap disiplin,
ucapannya akan sesuai dengan perbuatannya, lahiriyahnya akan sesuai dengan
batiniyyahnya.[8][8]
Imam Nawawi berkata, “zikir
dilakukan dengan lisan dan hati secara bersama-sama. Kalau hanya salah satu
saja yang berdzikir, maka dzikir hati lebih utama. Seseorang tidak boleh
meninggalkan dzikir lisan hanya karena takut riya. Berdzikirlah dengan keduanya
dan niatkan hanya mencari ridha Allah semata. Suatu hari saya mengunjungi
Al-Fadhil untuk menanyakan orang yang meninggalkan amal perbuatan karena takut
riya dihadapan manusia. Beliau menjawab, ”kalau seseorang menyempatkan diri
memperhatikan tanggapan orang lain padanya, berhati-hati atas persangkaan jelek
mereka, maka pintu-pintu kebaikan tidak terbuka lebar untuknya. Ia telah
menghilangkan bagian agama yang sangat vital. Ini bukan jalan yang ditempuh
orang-orang bijak”.[9][9]
Hal ini dengan simpel dan sederhana
di sampaikan syaikh Ibnu Athaillah ra. Beliau berkata : ”janganlah engkau
tinggalkan dzikir semata-mata karena tidak adanya kehadiran hatimu bersama
Allah di dalamnya. Sebab kelalaian hatimu (kepada Allah) tanpa adanya dzikir
adalah lebih berbahaya daripada kelalaian hatimu di dalam dzikir. Barangkali
Allah akan mengangkatmu dari dzikir yang lalai menuju dzikir dengan sadar, dari
dzikir yang sadar menuju dzikir yang
hadir, dari dzikir yang hadir kepada dzikir dengan hilangnya selain dzikir yang
di-dzikiri.” Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah”.
QS:14/20.[10][10]
Menurut ahli tashawwuf, dzikir itu
terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1) Dzikir lisan atau disebut juga dzikir nafi isbat, yaitu ucapan La
Ilaaha Illallah. Pada kalimat ini terdapat hal yang menafikan yang lain
dari Allah dan mengisbatkan Allah.
Dzikir nafi isbat ini dapat juga disebut dzikir yang
nyata karena ia diucapkan dengan lisan secara nyata, baik dzikir bersama-sama
maupun dzikir sendirian.
2) Dzikir qalbu atau hati, disebut juga dzikir:
Asal dan kebesaran, ucapannya Allah, Allah. Dzikirqalb ini dapat juga
disebut dzikir ismu dzat karena ia
langsung berdzikir dengan menyebut nama Dzat.
3) Dzikir sir atau rahasia, disebut juga
dzikir isyarat dan nafas, yaitu berbunyi : Hu, Hu. Dzikir ini adalah
makanan utama sir (rahasia). Oleh karena itu ia bersifat rahasia, maka
tidaklah sanggup lidah menguraikannya, tidak ada kata-kata yang dapat melukiskannya.[11][11]
2.3 Keutamaan dan manfaat dzikir
Seandainya tidak ayat al-Qur’an atau
hadits Nabi yang menerangkan tentang dzikrullah, maka dzikir yang hakiki kepada
Yang Maha Pemberi nikmat ini tetaplah sangat penting. Sebab, kita adalah
hamba-Nya, maka kita harus selalu mengingat-Nya jangan sampai melalaikan-Nya.
Dialah Yang Maha Pemberi yang telah memberi nikmat dan kebaikan yang tidak
terhitung banyaknya tanpa batas waktu. Karena itu, berdzikir kepada Allah dan
mensyukuri karunia-Nya merupakan sesuatu yang fitrah bagi seorang hamba,
sebagaimana disebutkan dalam syair:
Tuhan yang telah berkorban
di dunia ini
Suatu ketika, Rasulullah Saw
bersabda :
عن انس رض الله عنه ان رسول الله صلعم
قال: إذمررتم برياض الجنة فارتعوا قالوا ومارياض الحنة قال: حلق الذكر (أخر جه
أحمد والترمذي)
“Apabila kalian melewati taman surga (Riyadl al-Jannah),
maka senanglah kalian, kemudian para sahabat bertanya : apakah taman surga itu
ya Rasulullah?. Nabi menjawab : lingkaran dzikir (majlis dzikir).
Sesungguhnya Allah mempunyai
kendaraan malaikat yang selalu mencari majlis dzikir ketika malaikat itu
mendatangi mereka, maka malaikat ini kan mengitari mereka dan memberi rahmat.
Dalam sebuah riwayat Shahih Muslim juga
dikatakan, bahwa rasulullah Saw bersabda ;
رسو ل الله صلعم قال: لا يقعد قوم
يذكرون الله إلا حفتهم الملائكة وغشيتهم الرحمة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم الله
فيمن عنده (أخرجه ابن أبى شيبة واحمد ومسلم والترمذى وابن ماجه)
“Tidak ada suatu kaum yang duduk dan berdzikir kepada Allah
Swt, kecuali malaikat mengelilingi mereka dan memberi rahmat dan menurunkan
ketenangan kepada mereka, serta Allah
Swt, akan menyebut mereka termasuk dalam orang-orang yang ada di sisi Allah Swt.[13][13]
Dzikir juga menumbuh-suburkan rahmat
Allah, dan menghapus dosa-dosa kecil. Keterangan ini kita dapati dalam QS.
al-Ahzab : 33: 43. Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan akan melimpahkan
rahmatnya kepada orang-orang yang berdzikir, dan malaikat juga memohon
kepada-Nya, supaya dosa-dosa orang yang berdzikir diampuni dan dikeluarkan dari
kehidupan gelap (tanpa cahaya), kepada kehidupan yang penuh cahaya (nur)
Nya.
Penegasan Allah tersebut
menunjukkan, adanya perlakuan khusus Allah SWT dan para malaikat kepada
orang-orang yang banyak berdzikir. Perlakuan khusus tersebut, diberikan oleh
Allah dan para malaikat, sebagai suatu petunjuk bahwa kegiatan dzikrullah, merupakan
suatu ibadah wajib yang memiliki kekhususan tersendiri, dibandingkan dengan
ibadah-ibadah yang lain, dan karenanya kepada pelaksanaan ibadah tersebut, akan
diberikan berbagai keutamaan.[14][14]
a.
Fadhilah (keutamaan) Dzikir
Di dalam al-Qur’an banyak sekali
ayat-ayat yang menyuruh kita untuk berdzikir kepada Allah atau menganjurkan
orang supaya berdzikir dan menyatakan tentang keutamaan berdzikir kepada Allah.
Demikian pula dengan hadits-hadits Nabi Saw, atsar sahabat dan Tabi’in tentang
keutamaan berdzikir kepada Allah.[15][15]
Diantaranya adalah firman Allah QS.
al-Ahzab: 41-42:
Artinya:“Hai
orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama Allah), dzikir
yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan
petang”.
Dalam QS. ar-Ra’d: 28Allah juga berfirman:

Artinya:”orang-orang
yang beriman hatinya menjadi tentram karena mengingat Allah, ketahuilah hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.”[16][16]
Dzikrullah adalah amalan yang sangat
tinggi nilainya dan sangat mulia dalam pandangan Allah. Dzikrullah juga menjadi
pembeda antara orang yang dikasihi oleh Allah dan orang yang dibenci-Nya.
Sebagaimana dikisahkan bahwa : “Nabi Musa As, bertanya : “Ya Allah bagaimana
cara mengetahui perbedaan antara
kekasih-Mu dengan kebencian-Mu?. Jawab Allah : ” Hai Musa bagi
kekasih-Ku ada dua tanda bukti, yaitu:
1) Mudah berdzikir kepada-Ku, sehingga
akupun dzikir kepadanya di alam malakut langit – bumi.
2) Terpelihara dari segala yang haram
dan kemarahan-Ku, sehingga ia selamat dari siksa dan marah-Ku.
Demikian pula bagi kebencian-Ku ada
tanda bukti, yaitu:
1) mudah lupa dzikir kepada-Ku
2) Mudah menuruti nafsu, sehingga
terjerumus kedalam kancah kemungkaran dan haram, akhirnya mereka disiksa.
Syaikh al-Faqih Abul Laits
as-Samarqandi dalam kuliahnya mengatakan: “Dzikir kepada Allah adalah amal
ibadah yang paling unggul, setiap ibadah di tentukan kapasitasnya (kadarnya)
dan waktunya, bahkan terkadang ada yang dilarang jika tidak menepati waktunya
atau melebihi ketentuan yang berlaku, tetapi dzikir kepada Allah, tiada
ketentuan batas waktunya dan berapa jumlahnya.[17][17] Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Ahzab
ayat 41.
Betapa mulianya bila seorang mampu
selalu mengingat Allah dalam dzikirnya. Orang yang berdzikir akan diingat Allah
, bahkan dalam diri Allah itu sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits
qudsi, bahwa Rasulullah Saw bersabda,
Allah berfirman,
عن ابى هريرة رضى الله عنه قال: قال
رسو ل الله صلعم: يقول الله تعالى: انا عند ظن عبدي بن وانا معه إذاذكرنى. فإن
ذكرنى فى نفسه ذكرته فى نفسى. وان ذكرنى فى ملاء ذكرته فىملاء خير منهم. وان تقرب
إلى شبرا تقربت إليه ذراعا. وان تقرب إلى ذراعا تقربت إليه باعا وإن اتا نى يمشى
اتيته هرولة (رواه أحمد والبخارى ومسلم والترمذي)
“Aku (Allah) bersama prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan
bersama jika mengingat-Ku ,kalau ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku akan
ingat dia dalam diri-Ku.”(HR. Syaikhani dan Tirmidzi dari Abi
Hurairah)[18][18].
Dzikir adalah cara mengingat Allah
yang sebaik-baiknya. Allah akan ingat kepada orang yang ingat kepada-Nya,
mengingat Allah dalam keadaan apa saja, saat berdiri, duduk, berjalan dan
lain-lain. Apabila kita mengingat Allah ditengah kerumunan orang ramai, maka
Allah akan mengingat kita di dalam kerumunan yang lebih baik dari mereka.
Sebuah hadits menyebutkan bahwa
tanda-tanda mencintai Allah Swt adalah mencintai dzikirullah, Abu Darda ra.
Berkata, “Barang siapa lidahnya senantiasa basah karena dzikir kepada Allah, ia
akan masuk syurga dengan tersenyum”. Dari Abu Darda Rasulullah Saw bersabda,”
عن ابى الذرداء رضى الله عنه قال: قال
رسو ل الله صلعم : الا انبئكم بخير اعمالكم وازكاها عندمليككم وار فعهافى درجاتكم
وخير لكم من إنفاق الذهب والورق وخير لكم من ان تلقوا عدوكم فتضربوا اعنا قهم
ويضربوا اعناقكم ؟ قالوا : بلى. قال : ذكر الله (أخرجه أحمد والترمذى وابن ماجه)
“Maukah kamu aku beritahu tentang amal yang baik,
paling mulia dan paling suci disisi
Allah, dan paling tinggi derajatnya,
lebih berharga dari menginfakkan emas dan perak, dan bila bertemu musuh maka
kalian akan memenggal lehernya,” para sahabat bertanya, “apa itu ya
Rasulullah?”, dzikir kepada Allah.”
(Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)[19][19]
Setiap muslim tentu mengetahui,
betapa utamanya berdzikir itu dan betapa besar manfaatnya, dzikir merupakan
pekerjaan yang mulia dan sangat bermanfaat, sebagai sarana untuk mendekatkan
diri pada Allah Ta’ala. Para ulama dan shalihin (orang-orang yang saleh) telah
menguatkan keutamaan dzikir ini, dengan menyatakan, seorang yang dapat
memadukan antara Tafakur hatinya tentang siksa, nikmat, dan kesempurnaan
kekuasaan Allah, dengan sikap hati-hati (wara’) dari mendekati sesuatu
yang haram dan syubhat serta menerima ketentuan-ketentuan-Nya, dan dzikir
kepada Allah, maka sesungguhnya ia mendekati tindakan para wali, para shiddikin,
dan Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah).
Imam al-Qusyairi menyatakan, dzikir
adalah tanda kekuasaan dan cahaya keterpautan, bukti kehendak dan tanda baik
suatu permulaan sekaligus sebagai tanda kesucian keberakhiran. Dan tidak ada
suatu keutamaan lain, setelah dzikir.
Segala tindakan dan sikap terpuji
adalah kembali kepada dzikir. Karna
sumbernya adalah dzikir. Dan suatu aktivitas yang didahului dengan dzikir termasuk perkara yang
paling besar. Allah berfirman,
Artinya: “sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari
perbuatan keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar
(keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang
kamu kerjakan.” (QS. al-Ankabut [29] : 45)[20][20].
Para ulama menafsirkan ”dan
sesungguhnya dzikir itu lebih besar” dengan beberapa interpretasi sebagai
berikut :
Pertama, sesungguhnya dzikir kepada Allah
lebih besar dari segala sesuatu, dzikir adalah taat yang paling utama. Arti
taat disini adalah menegakkan
dzikir kepada-Nya, sedang dzikir adalah
ketaatan dan daya ketaatan itu sendiri. Kedua, sesungguhnya jika kamu
sekalian, kaum muslimin, ingat kepada-Nya, maka Allahpun akan ingat kepadamu,
sedangkan dzikir Allah kepadamu lebih besar daripada dzikir kamu kepada-Nya.
Ketiga, sesungguhnya dzikir kepada Allah adalah lebih besar daripada tetapnya Fakhsya
dan kemungkaran. Bahkan jika
dzikir dibaca secara sempurna, ia akan dapat menghilangkan segala kesalahan dan
maksyiat. Ke-empat, sesungguhnya amal saleh, bila ingin diterima oleh
Allah, harus diakhiri dengan dzikir, jika tidak diakhiri dengan dzikir dan
pujian maka amal itu akan sia-sia belaka.
Dengan demikian, manakala seseorang
berdzikir kepada Allah, dengan tasbih, tahlil, takbir atau berdzikir dalam
keadaan sholat, berdo’a, membaca al-Qur’an atau dalam segala aktivitas
hidupnya, maka Allah juga akan ingat kepadanya dengan dzikir yang lebih besar
daripada dzikir yang mereka lakukan kepada Allah. Allah pun akan membanggakan
itu kepada para malaikat, maka turunlah hidayah rahmat, dan maghfirah kepada
sang dzakir. Ia akan diberi keistimewaan sepanjang hidupnya dan menjadi orang
pilihan hingga pada hari kiamat.
Menurut Ibnul Qayyim, bahwa dzikir
adalah ibadah paling mudah, namun paling agung dan utama, karena gerakan lisan
adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan mudah. Selain itu,
dzikrullah merupakan amal yang paling dapat menyelamatkan manusia dari siksa
Allah . Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang diriwayatkan Ibn Abi Syaybah dan
Thabrani dengan isnad hasan:
عن معاذبن جبل قال: قال رسول الله
صلعم: ماعمل ادمي عملا انجى له من عذاب القبر من ذكر الله (أخرجه أحمد)
“Tidak ada amal yang dapat dilakukan oleh anak adam
(manusia) untuk menyelamatkannya dari siksa kubur, kecuali berdzikir kepada
Allah.”
Dan dengan dzikir pula, hati dapat menjadi mengkilap, menjadi bersih dari
segala kotoran.
إن لكل شيئ صفا لة وان صفالة القلوب
ذكرالله
“Sesungguhnya bagi tiap-tiap segala sesuatu ada pengkilap
(sikat/pembersihnya). Dan sesungguhnya pengkilap/pembersih kalbu adalah
dzikrullah...”
Hati manusia dapat berkarat- kata
Ibnul Qayyim-karena dua hal, yaitu : lalai dan dosa. Dan cara membersihkannya
pun dengan dua hal pula, yakni : dengan istighfar dan dzikir.[21][21]
b. Manfaat Dzikir
Ibn ’Atha’illah as-Sakandari, guru
ketiga dari tarekat as-Sadziliyyah (w. 709 H/1350 M) menyebutkan ada 63 manfaat
dzikir. Berikut kami kutip manfaat dzikir yang berhubungan dengan kesehatan
mental :
1) Menghilangkan segala kerisauan dan
kegelisahan serta mendatangkan
kegembiraan dan kesenangan.
2) Mendatangkan wibawa dan ketenangan
bagi pelaku-nya
3) Mengilhamkan kebenaran dan sikap
istiqomah dalam setiap urusan
4) Mendatangkan sesuatu yang paling
mulia dan paling agung yang dengan itu kalbu manusia menjadi hidup seperti
hidupnya tanaman karena hujan. Dzikir adalah makanan rohani sebagaimana nutrisi
bagi tubuh manusia, dzikir juga merupakan perangkat yang membuat kalbu bersih dari karat yang berupa lalai dan
mengikuti hawa nafsu.
5) Dzikir juga menjadi penyebab
turunnya sakinah (ketenangan), penyebab adanya naungan para malaikat, penyebab turunnya mereka atas
seorang hamba, serta penyebab datangnya
limpahan rahmat, dan itulah nikmat yang paling besar bagi seorang hamba.
6) Menghalangi lisan seorang hamba
melakukan ghibah, berkata dusta, dan melakukan perbuatan buruk lainnya.
7) Orang yang berdzikir akan membuat teman
duduknya tentram dan bahagia.
8) Orang yang berdzikir akan diteguhkan
kalbunya, dikuatkan tekadnya, dijauhkan dari kesedihan, dari kesalahan, dari
setan dan tentaranya. Selain itu kalbunya akan didekatkan pada akhirat dan
dijauhkan dari dunia.
9) Apabila kelalaian merupakan
penyakit, dzikir merupakan obat baginya. Ada ungkapan: Jika kami sakit, kami
berobat dengan dzikir. Namun kadangkala kami lalai, hingga iapun kambuh lagi.
10) Memudahkan pelaksanaan amal saleh,
mempermudah urusan yang pelik, membuka pintu yang terkunci, serta meringankan
kesulitan.
11) Memberi rasa aman kepada mereka yang
takut sekaligus menjauhkan bencana.
12) Dzikir menghilangkan rasa dahaga
disaat kematian tiba sekaligus memberi rasa aman dari segala kecemasan.[22][22]
Dzikir merupakan salah satu bentuk ibadah mahluk kepada Allah SWT,
dengan cara mengingat-Nya melalui ucapan (pujian /doa) dan perbuatan (shalat /
amal saleh). Salah satu manfaat dzikir kata Habib Huda (habib sekedar nama) seorang ahli metafisik (claivouryant)
adalah untuk menarik energi positif[23][23]
/ energi dzikir
yang bertebaran di udara agar energi dzikir dapat masuk dan tersirkulasi ke
seluruh bagian tubuh pelaku dzikir (dzakir). Manfaat utama energi dzikir
pada tubuh adalah sebagai pendingin (AC) guna menjaga keseimbangan suhu tubuh,
agar tercipta “suasana kejiwaan yang tenang, damai dan terkendali, bermoral (ber
ahlakul karimah)”. Kondisi kejiwaan / psikis yang demikian
akan menentukan “kwalitas ruh”
mahluk, dimana ruh adalah penentu pertanggung-jawaban mahluk dihadapan Allah
SWT.
Salah satu manfaat paham ilmu agama adalah untuk mendapatkan
energi dzikir dari udara dengan tingkat kepadatan molekul energi yang terpadat
/ terbesar. Salah satu manfaat beriman
( yakin dan percaya) adalah untuk memadatkan Energi Dzikir yang kedalam tubuh.
Salah satu manfaat taqwa
(bersedia menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya) adalah
untuk mengikat Energi Dzikir agar tidak mudah hilang / menguap.
Lebih lanjut Habib mengatakan bahwa bacaan dzikir merupakan kunci pintu
masuknya energi dzikir kedalam tubuh. Salah satu manfaat ikhlasadalah untuk memperlancar jalan
masuknya energi dzikir kedalam tubuh (pelumas). Salah satu manfaat sabaradalah
untuk memperbesar daya tampung tubuh pelaku dzikir terhadap energi dzikir yang
masuk. Salah satu manfaat khusyuk(konsentrasi)
adalah untuk mempercepat proses masuknya energi dzikir kedalam tubuh (pemompa).
Salah satu manfaat taubat adalah
untuk mengeluarkan energi negatif dan
energi kotor dari dalam tubuh pelaku dzikir. Hal-hal tersebut di atas terjadi
dengan sendirinya (otomatis), jadi dimohon agar jangan “meniatkan” berdzikir untuk mendapatkan
energi dzikir.
Energi dzikir yang besar pada diri
pelaku dzikir akan membentuk medan
magnet positif / daya tarik positif, yang bermanfaat untuk menarik mahluk Allah
yang lainnya untuk berpikiran positif dan berbuat positif terhadap Si pelaku
dzikir (dzakir) tersebut. Jadi, jika ibadah / dzikir kita sudah benar
menurut Allah (al-Qur’an) dan Rasul-Nya (sunnah) maka nasib / keadaan hidup
kita di dunia sekarang maupun di akhirat nanti akan selalu bahagia.[24][24]
2.4 Dzikir dan Tarekat
Salah satu bagian terpenting dalam
tarekat, yang hampir selalu kelihatan dikerjakan, ialah dzikir (wiridan). Dalam
dunia tarekat mengingat Allah (dzikir)
itu dibantu dengan bermacam-macam ucapan, yang menyebut Asma Allah atau
sifat-Nya, atau kata-kata yang mengingatkan mereka kepada Allah.
Pada keyakinan golongan-golongan
tarekat tiap-tiap manusia tidak terlepas dari empat perkara. Pertama manusia
itu kedatangan nikmat, kedua kedatangan bala, ketiga berbuat ta’at dan ke-empat
berbuat dosa. Selama manusia itu mempunyai nafsu yang turun naik, pastilah ia
mengerjakan salah satu pekerjaan dari empat macam tersebut, maka dengan alasan
– alasan itulah golongan tarekat mempertahankan dzikir, tidak saja dzikir
dengan mengingat Allah dalam hati tetapi menyebut Allah senantiasa kala dengan
lidahnya untuk melatih segala anggotanya, maka selalulah dzikir itu diucapkan
dan mengingat Allah itu dikekalkan untuk memperoleh pengaruhnya.[25][25](memperoleh energi dzikir).
Dzikir memegang peranan penting
dalam proses ”Penyucian Jiwa” (tazkiyyat
al-nafs)[26][26]. Akan tetapi kenapa harus dzikir?. Dalam islam, mengucapkan
lafadz dzikir yang identik dengan syahadat
atau tahlil, merupakan legitimasi, bahwa orang tersebut rela menjadi
muslim, sekaligus mukmin, pengucapan ini bukan hanya sekedar dimulut saja,
melainkan di resap dalam sanubari dengan meyakini bahwa ”tiada Tuhan selain Allah”
Salah satu cara untuk menjaga
konstanitas / keajegan atau bahkan menambah keimanannya itu, menurut kalangan
sufi, adalah dengan melanggengkan dzikir (mulazamatu
fii al-dzikr), atau terus-menerus menghindarkan diri dari segala sesuatu
yang dapat membawa lupa kepada Allah,”
mukhalafat fii al-dzikir”. Sebagaimana Nabi Saw bersabda:
جَدِّدُوْا إِيْمَانَكُمْ قَالُوْا:
كَيْفَ نُجَدِّدُ اِيْمَا نَنَا قِيْلَ يَا رَسُوْ لُ اللهِ؟ قَالَ: بِكَثْرَةِ
لاَإِلَهَ اِلاَّ اللهِ.
”Perbaharuilah
iman kamu sekalian, sahabat bertanya: dengan apa memperbaharuhi keimanan kami, Ya
Rasulullah? Berkata Nabi ”Dengan
memperbanyak (dzikir )”La ilaha Illa Allah ”(al-hadits)
Pengaruh yang ditimbulkan dari berdzikir
secara konstan ini, akan mampu mengontrol perilaku seseorang dalam kehidupan
sehari-sehari,. Seseorang yang melupakan dzikir atau lupa kepada Allah,
kadang-kadang tanpa sadar dapat saja
berbuat maksiat. Namun manakala ingat kepada Tuhan kemudian mengucapkan
dzikir, kesadaran akan dirinya sebagai hamba Tuhan akan segera muncul kembali.[27][27]
Fungsi dzikir sebagai alat Tazkiyyah al-Nafs (penyucian jiwa)
dalam rangka mengembalikan Potensi
Ruhaniyah pada diri manusia yang
terhalang atau hilang akibat dari sifat-sifat tercela, dikarenakan selalu
mengikuti kehendak nafsu. Al-Ghazali menyebut sifat-sifat tercela yang dimaksud
meliputi: hasad (iri hati): haqaq (dengki atau benci); su’dzan (buruk sangka): kibir (sombong): ’ujub (merasa sempurna diri dari orang lain); riya’ (memamerkan kelebihan): suma’
(mencari-cari nama atau kemasyhuran): bukhl
(kikir); hubb al-maal
(materialistis); takabbur
(membanggakan diri): ghadhab (pemarah); ghibah (pengumpat); namimah
(bicara di belakang orang/jawa: ngrasani); kidzib
(pendusta); khianat (ingkar janji).
Sifat-sifat semacam itulah yang sebenarnya mendominasi pemikiran dan tingkah
laku seseorang, yang muaranya melakukan berbagai penyimpangan!.[28][28]
Dzikir merupakan aktivitas religius
penting bagi para sufi, untuk mengembangkan diri agar berada sedekat mungkin
dengan Allah Swt. Dalam tasawuf (baca: tarekat) tahapan-tahapan (maqamat) para penempuh jalan sufi (salik) harus melewati maqam dzikir
untuk mencapai ma’rifatullah[29][29].
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Menurut ahli
kebathinan (ahli Hikmah) orang yang berzikir dengan khusyu dan memakai ritual
tertentu zikir tersebut mempunyai pengaruh besar pada raganya, sehingga
seseorang yang berzikir jasadnya kuat atau dapat melambung keatas. Umar bin
Khaththab ketika beliau terkena anak panah kakinya pada suatu peperangan maka
dicabut anak panah tersebut pada waktu beliau sedang shalat agar tidak terasa
sakit .
Yang sebenarnya
khadam yang ada pada zikir adalah para Malaikat yang selalu mendekati orang
yang sedang berzikir. "Tidaklah sekelompok orang berzikir kepada Alloh
didalam majlis melainkan mengelilingi para Malaikat sambil menurunkan rahmat
kepada mereka, Alloh selalu ingat kepada mereka siapa saja yang ada
disisiNya". Saya (penulis) yaqin para Malaikat itu dapat kita panggil dan
berdialog untuk meminta sesuatu asalkan kita selalu berzikir dan tahu cara
bertemunya.
[1][1] In’ammuzahiddin Masyhudi,
Nurul Wahyu A, Berdzikir dan Sehat ala Ustad Haryono, Semarang: Syifa Press, 2006, hlm. 7
[2][2]M. Afif
Anshori, Dzikir Demi Kedamaian Jiwa Solusi Tasawuf Atas Manusia Modern,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, hlm, 16
[4][4]Aboe Bakar
Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat Uraian
tentang Mistik, Cet ke-IIIX, Ramadhani, Solo, 1996, hlm, 276
[7][7] Teungku
Hasbi Ash-Shiddieqiy, Pedoman Dzikir Dan
Doa, Bulan Bintang, Jakarta, Cet
ke-llX, 1990, hlm, 36
[8][8].Moh
Saefullah al-Aziz, Risalah Memahami Ilmu
Tasawwuf, Terbit Terang, Surabaya, 1978, hlm, 193-194
[9][9]Abdul
Halim Mahmud, Terapi Dengan Dzikir
Mengusir Kegelisahan & Merengkuh Ketenangan Jiwa, Misykat (PT. Mizan
Publika), Jakarta, 2004, hlm, 78-79.
[14][14]M. Amin,
Aziz, Tirmidzi Abdul Majid, Analisa Zikir dan Doa, Jakarta, Pinbuk
Press, 2004, hlm. 19-21.
[16][16]Departemen
Agama, Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an, PT. Tanjung Mas
Inti, Semarang, 1992, hlm, 674 dan 373.
[23][23]Energi
Positif adalah salah satu energi alam yang bersifat
dingin karena dipengaruhi oleh suhu
dingin atmosfir. Sedangkan Energi Alam (dibawah atmosfir) merupakan
bagian dari udara. Energi Alam berwujud butiran-butiran /
partikel-partikel udara yang sangat
halus dan tidak nampak oleh mata telanjang. Energi Alam berasal dari hasil
reaksi pembakaran sari makanan pada tumbuhan yaitu oksigen. Ada dua jenis
Energi Alam, yaitu Energi Alam Positif (Energi Positif), sebagaimana
telah dijelaskan diatas, dan Energi Alam Negatif (Energi Negatif),
yaitu Energi Alam yang bersifat panas
karena dipengaruhi oleh suhu panas uap
bumi dan suhu panas dari sinar matahari. Satu Energi Positif sebanding dengan
satu Energi Negatif. Keduanya saling tarik dan saling mengalahkan.
[24][24]Habib
Huda, Wacana Waroeng Psikologi, Candi
Penataran Selatan 8B Kalipancur, Semarang, 2004.
[26][26]Mensucikan
jiwa adalah tujuan utama yang ingin dicapai agama diatas dunia ini. Kesucian
jiwa merupakan kesempurnaan manusia dan keluhuran rohani, maka, hanya dengan
jiwa yang suci yang akan mampu menghantarkan pada martabat manusia sempurna.(Abdul
Halim Mahmud, 2004).


0 Response to "Dzikir"
Posting Komentar